Para penikmat rawon kokot di warung ini seperti ketagihan. Mereka yang pernah berkunjung, pasti akan kembali lagi untuk menikmati hidangan berkuah itu.
Rawon kikil Bu Asmad disajikan dengan cara berbeda. Proses masaknya pun terhitung lama. Tak hanya itu, pemilihan kikil untuk dimasak juga menjadi faktor utama nikmatnya hidangan Bu Asmad. Pemilik warung memilih bahan yang masih baru. Biasanya mereka akan berbelanja kaki sapi pada dini hari, sekitar pukul 03.00, di Pasar Maesan, Bondowoso.
Sebelum dimasak, kikil dibersihkan dulu. Selanjutnya, digodok hingga empat kali. Proses pendidihan pertama dicampuri kapur agar kotoran yang masih menempel hilang. Selanjutnya, tanpa menggunakan kapur agar aroma kapur yang tersisa hilang. Proses ketiga adalah memasak dengan air tanpa campuran apa pun agar kikil empuk dan lembut ketika digigit. Dan terakhir, memasak dengan campuran bumbu rawon.
Semua proses pemasakan ini dilakukan menggunakan tungku. Pemilik meyakini, proses yang masih manual ini memengaruhi cita rasa rawon. Dan selama warung buka, tungku selalu dinyalakan. Sehingga kapan pun pelanggan datang, rawon akan tersaji dalam keadaan hangat. “Kalau proses pendidihan kira-kira bisa sampai lebih dari lima jam,” ujar Taher, anak Bu Asmad, pemilik warung.
Para pelanggan rawon kikil Bu Asmad ini mengaku, yang khas dari masakan itu adalah cita rasa kaldu rawonnya yang sangat kental. Sehingga lebih sedap dan berbeda dengan rawon kikil di warung lainnya. Terlebih, bumbu yang digunakan tidak memakai campuran apa pun. Tidak diendapkan seperti bumbu-bumbu instan yang dijual di pasaran.
Setiap harinya, pemilik selalu membuat bumbu baru untuk hidangan rawon kikil tersebut. “Tidak ada gajihnya (lemak, Red). Bumbu kaldunya juga terasa banget. Jadi, rasanya sangat khas,” kata Sri, salah seorang pelanggan yang sedang menikmati kudapan tersebut.
Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Jumai
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri