Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Jejak Spiritual Syekh Moh Nur

Safitri • Minggu, 23 Mei 2021 | 17:00 WIB
Photo
Photo
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Metode dakwah terus berubah seiring perkembangan zaman. Masa lampau, ulama menggunakan pendekatan kebudayaan untuk menyiarkan ajaran agama kepada umat. Seperti yang dilakukan Syekh Moh Nur, ulama yang makamnya bisa ditemukan di Desa Kemuning Lor, Kecamatan Panti.

Ajaran-ajaran Syekh Moh Nur ini dibukukan oleh muridnya hingga menjadi kitab bernama Bayt Dua Belas. Kitab yang berisi tentang ajaran keagamaan ini bisa dibaca menggunakan langgam dan tembang Jawa. Hingga kini, kitab tersebut masih terus diajarkan oleh para penerusnya. Biasanya dikaji saban Selasa pada tiap pekannya.

Kitab Bayt Dua Belas merupakan teks keagamaan berstruktur mistis. Kitab ini sebenarnya memiliki nama asli Fathul Rif’an yang berisi tentang gagasan, ajaran, dan pengalaman kerohanian yang harus dijalankan untuk mencapai tingkat makrifat. Makrifat adalah konsep ajaran spiritual yang bertujuan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Salah satu keturunan Syekh Moh Nur, Ma’syum mengungkapkan, kitab itu diberi nama Bayt Dua Belas memiliki makna tersendiri. Secara etimologi, Bayt dianggap rumah. Sedangkan secara ilmu bahasa Arab atau nahwu, diartikan sebagai syair. “Jadi, kalau secara fikih, Bayt Dua Belas adalah 12 rumah. Tapi secara umum diartikan sebagai 12 bab,” katanya.
Photo
Photo


Naskah ini ditulis pada tahun 1963 atau 1383 Hijriah oleh KH Shirotol Mustaqim, salah seorang murid Syekh Moh Nur. Seiring berjalannya waktu, kitab ini pun mengalami penyempurnaan. Hingga saat ini, kitab tersebut telah dicetak secara massal dan menjadi pegangan setiap jamaah yang ingin mengkaji kitab tersebut.

Ketua Yayasan Nahdlatul Ma’arif yang tak lain merupakan keturunan kelima Syekh Moh Nur, Akmad Khudory, mengungkapkan, masyarakat setempat memiliki golongan jamaah pengajian Kitab Bayt Dua Belas. Pengajian rutinan dilakukan setiap hari Selasa. “Pengajian ini juga digunakan sebagai ngaji bareng dan masih menggunakan metode kuno,” kata Khudory.

Kitab tersebut telah tersebar ke berbagai wilayah. Tidak hanya di Jember. Namun, juga di beberapa kabupaten lain. Tiap acara pengajian- pengajian untuk santri dan masyarakat di kawasan pesantren setempat, kitab ini juga sering menjadi rujukan. Sehingga, pola dakwah menggunakan Bayt Dua Belas juga mengadopsi metode kontemporer.

Jurnalis: Dian Cahyani
Fotografer: Jumai
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Jember #Wisata