Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ada Perubahan Hilir di Zaman Belanda

Safitri • Senin, 8 Februari 2021 | 16:40 WIB
RIMBUN: Kondisi Sungai Bedadung di masa lampau. Terlihat di kanan kiri kanal masih banyak pepohonan.
RIMBUN: Kondisi Sungai Bedadung di masa lampau. Terlihat di kanan kiri kanal masih banyak pepohonan.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Bedadung ternyata memiliki sejarah panjang. Bahkan sejak era kolonial. Yohanes Setiyo Hadi, pegiat sejarah sekaligus Pembina Boemi Poeger Persada, mengisahkan sejarah sungai yang membelah Jember itu. Menurut dia, Bedadung memiliki hulu dari Pegunungan Iyang dan Raung. Dari beberapa pertemuan sungai-sungai kecil itu, menyatu ke Bedadung yang zaman dulu bermuara ke Pantai Selatan. Antara Desa Lojejer, Kecamatan Wuluhan, dan Puger Wetan, Kecamatan Puger.

Hal itu berdasar pada sejumlah catatan yang ditinggalkan era kolonialisme Inggris. Seperti Sir Thomas Stamford Raffles dalam tulisannya Histori Of Java volume 1 tahun 1811-1817. Saat itu, disebut menjadi awal peradaban Bedadung yang pertama terdokumentasi oleh penjajah. Termasuk kondisi sungainya yang terpetakan menjadi dua bagian sungai besar. Sungai Bedadung dan Sungai Puger atau Kali Poeger.

"Pada tahun awal itu, Sungai Bedadung membentang dari ujung timur Jember, sampai ke pintu air atau Dam Bendungan Bedadung di Desa Rowotamtu. Sementara, sungai yang dari Rowotamtu sampai ke laut, masih dinamakan Kali Poeger atau River Poeger," jelas pria yang akrab disapa Yopi tersebut.

Di abad 19 itu, lanjut dia, fungsi Sungai Bedadung hampir sama seperti saat ini. Yakni untuk irigasi. Dan lagi, karakteristik orang zaman dulu, mereka memiliki kecenderungan tinggal di dekat sungai karena sebagai satu-satunya sumber kehidupan. "Karenanya selama ini, air Sungai Bedadung itu memang tidak pernah mati. Hanya surut, dan tetap ada airnya," sambungnya.

Karakteristik orang zaman dulu yang cenderung mendekati sumber mata air itu juga menjadi cikal bakal keberadaan dan fungsi Sungai Bedadung selanjutnya. Bedanya, orang dulu tinggal di sungai karena ingin dekat dengan sumber air, jadi menyangkut kelangsungan hajat kehidupan mereka. Namun, Yopi mengakui, argumentasi itu belum tepat jika dipakai untuk orang saat ini. Sebab, sebagaimana diketahui, hari ini sumber mata air begitu mudah ditemui dan tidak harus berada di pinggir sungai.

Fakta sejarah itu, menurut Yopi, banyak terdapat dalam beberapa tulisan kuno yang terarsip di museum dan arsip di Belanda serta beberapa negara Eropa lainnya, termasuk Inggris. Kebanyakan memang berbahasa Belanda, namun bisa diakses secara daring dan gratis.

Setelah selesai zaman Inggris itu, lanjut Yopi, eksistensi Sungai Bedadung berlanjut ke era kolonialisme Hindia-Belanda, sekitar awal abad 19. Saat itu, Bedadung mulai mendapat porsi lebih. Termasuk perubahan hilir dari yang awalnya ada Sungai Bedadung dan Poeger River, dijadikan satu menjadi Sungai Bedadung di era Hindia-Belanda. "Zaman Hindia-Belanda, ada politik etis yang dimainkan. Dan ini membuat perubahan besar terhadap eksistensi Sungai Bedadung," jelasnya.

Beberapa perubahan mendasar itu, lanjutnya, terdapat pada jalur Sungai Bedadung yang dari hulu ke hilir. Dari awalnya terhenti di Bendungan Rowotamtu, jalurnya ditambah. Sehingga hilir Sungai Bedadung berlanjut sampai ke Pantai Puger dan nama Poeger River dihapus. Sehingga dikenal sebagai Sungai Bedadung yang membelah Jember, seperti sekarang ini.

Sementara itu, mengenai politik etis itu, katanya, berisikan siasat dan strategi pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Di antaranya edukasi, imigrasi, dan irigasi. "Belanda itu begitu detail mengarsip daerah jajahan mereka. Tidak hanya dari bahasa dan budayanya, namun sampai ke kondisi geografisnya. Mereka gambarkan dengan detail," imbuh pria asal Kencong itu.

Di akhir, ia kembali menegaskan bahwa keterangannya itu hampir semuanya dibuktikan dengan tulisan, naskah kuno, dan lukisan-lukisan peta yang menggambarkan kondisi Jember era abad 19 silam, atau zaman kolonialisme Inggris dan Hindia-Belanda. "Semua sejarah itu sebenarnya terdokumentasi. Tinggal kita mau apa tidak mencarinya," pungkas Yopi. Editor : Safitri