https://radarjember.jawapos.com/main_yuk/11/06/2023/perawatan-ular-sanca-kembang-mudah-jarang-sakit/
Morph atau variasi genetiknya juga bermacam-macam. Yang semakin memperelok koleksi dan memberikan kebahagiaan tersendiri bagi penghobinya saat melakukan perawatan.
Fendik Prasetyo, pecinta hewan reptil yang memiliki beragam morph sanca kembang di rumahnya. Morph Normal, piton yang motif tubuhnya berwarna krem dengan corak hitam seperti pada umumnya hingga morph dengan corak berwarna warni. Seperti Albino caramel, Albino white phase, Sunfire, Golden child, Bacan, Phantom, Platinum, hingga morph Tiger.
Ada berbagai macam ukuran sanca kembang yang dipelihara Fendik. Dari ukuran terpanjang 4,5 meter hingga paling kecil yang baru menetas. Rata-rata, ular yang dimilikinya adalah hasil ternak dari indukan yang dipelihara sendiri atau yang biasa disebut captive breed (CB) dalam dunia hewan. Diternak dari beberapa ular menjadi puluhan sampai sekarang.
Biasanya, dia mengajak teman-teman komunitasnya di Desa Ledokombo untuk melakukan gathering di Alun-alun sekitar desanya seperti Kalisat hingga Sukowono dengan tujuan memperkenalkan kepada masyarakat bahwa ular tidak semenakutkan yang mereka bayangkan. Tidak jarang pula memberikan edukasi di sekolah-sekolah. “Ular itu sebenarnya penyeimbang ekosistem sawah, jadi selama tidak mengganggu jangan dibunuh,” tutur pria yang merupakan pembina komunitas Reptile Warrior Jember.
Kesenangan pada ular bagi pria beranak satu ini bukan hanya melalui proses saat merawat saja. Tetapi merasa terhibur saat bisa mengedukasi orang untuk bisa ikut menyenangi hewan reptil yang sering dianggap berbahaya itu. (sil/nur) Editor : Maulana Ijal