Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Wisata Pelepasan Tukik Tinggal Kenangan

Safitri • Selasa, 13 Juli 2021 | 16:40 WIB
TOLAK PEJABAT Plt: Sejumlah pekerja PDP Kahyangan mendatangi gedung DPRD Jember, kemarin (11/2). Para buruh ini bakal memantau pelaksanaan hearing antara Komisi C, PDP Kahyangan, dan PDAM Jember.
TOLAK PEJABAT Plt: Sejumlah pekerja PDP Kahyangan mendatangi gedung DPRD Jember, kemarin (11/2). Para buruh ini bakal memantau pelaksanaan hearing antara Komisi C, PDP Kahyangan, dan PDAM Jember.
JEMBER, RADARJEMBER.ID - Selain indah, pesisir selatan Jember juga berpotensi menjadi salah satu kawasan wisata konservasi habitat penyu. Salah satu spesies langka ini memang sudah mulai jarang terlihat. Banyaknya aktivitas perburuan liar diduga kuat menjadi penyebabnya.

Sebenarnya, dalam beberapa catatan Jawa Pos Radar Jember, di pesisir selatan Jember ini sering ada aktivitas pelepasan anak penyu atau tukik secara bersama-sama. Baik yang dilakukan oleh warga setempat, kelompok konservasi, para pemerhati, ataupun aktivis lingkungan.

Pada tahun 2014 misalnya, Pemkab Jember sempat merilis pernah ikut serta melepas sebanyak 1.058 ekor tukik ke pesisir Pantai Kepanjen. Setahun berikutnya, pada Januari 2015, warga setempat melepaskan 121 ekor tukik ke Pantai Nyamplong Kobong, Kepanjen, Gumukmas.

Lalu, Mei 2016 juga dilakukan kegiatan serupa dengan melepaskan 130 ekor tukik di lokasi yang sama. Terakhir, Desember 2018 lalu, warga setempat bersama jajaran terkait kembali melepaskan tukik. Namun, kala itu jumlahnya turun drastis hanya 24 ekor yang dilepasliarkan, dari 40 ekor yang ditangkarkan.

Bahkan, dari beberapa jenis tertentu, ada yang tergolong sangat langka. Seperti penyu hijau (Chelonia mydas), penyu lekang (Lepidochelys olivacea), dan penyu pipih atau abu-abu (Natator depressus).

Sejumlah nelayan yang tergabung dalam Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Gumukmas mengungkapkan, pesisir selatan Jember selama beberapa tahun belakangan memang menjadi pendaratan penyu-penyu untuk bertelur. Bahkan, setiap tahun. "Dulu masih belum ada aktivitas apa pun di sekitar pesisir. Penyu tukik itu sering ditemukan oleh nelayan. Dari situ, kami amankan untuk ditangkarkan," terang Sukat, Pengurus Pokmaswas Gumukmas, saat ditemui Jawa Pos Radar Jember, belum lama ini.

Para nelayan yang setiap hari melaut tak sekadar merawat telur-telur penyu tersebut. Mereka juga memiliki misi besar untuk melestarikan salah satu spesies langka yang mulai jarang ditemui itu. Sebab, Pokmaswas itu memang mereka bentuk untuk tujuan ke arah sana. "Sekarang sudah sulit ditemui ada penyu bertelur lagi. Tapi, ada teman-teman pemerhati lingkungan yang mulai mencoba memantau penyu-penyu di kawasan pesisir," sambungnya.

Adanya aktivitas perburuan liar terhadap telur penyu itu juga dinilai yang paling berpengaruh. Selain itu, kawasan sempadan pantai yang mulai dipenuhi dengan tambak juga turut menyumbang kerusakan ekosistem pesisir. Kerusakan pesisir dan perburuan liar itulah yang membuat hewan bertempurung dan langka ini semakin jarang ditemui. "Sejak dua tahun belakangan ini, pelepasan tukik mulai vakum. Bukan karena tidak mau mengadakan, tapi memang penyu semakin sulit ditemukan," beber Muhammad Nur Wahid, Ketua Dewan Eksekutif Lembaga Pendidikan Rakyat untuk Kedaulatan Sumber-Sumber Agraria (LPR KuaSA), salah satu lembaga yang fokus terhadap kelestarian lingkungan.

Berdasarkan data yang dikumpulkan pokmaswas dan keterangan nelayan setempat, kata Wahid, musim pendaratan penyu itu sebenarnya terjadi tiap tahun. Utamanya saat memasuki musim kemarau, antara Juli dan Agustus. "Pekan depan, kami mulai melakukan pemantauan itu bareng pokmaswas. Sementara yang dekat ini, kami upayakan untuk berkoordinasi dengan BKSDA Jember," tambah Wahid.

Dari informasi pokmaswas itulah, lanjut dia, ada beberapa jenis penyu yang biasa mendarat di pesisir tersebut. Terbanyak penyu sisik, lalu ada penyu hijau yang juga ditemukan di sekitar Pulau Nusabarong, dan beberapa penyu belimbing. "Semuanya itu spesies langka. Tapi, selama ini tidak ada perlindungan. Perburuan banyak, tapi pengawasan lemah," terangnya.

Oleh karena itu, pekan mendatang, ia bersama pokmaswas setempat mulai merencanakan pemantauan terhadap aktivitas penyu-penyu langka tersebut. Pihaknya berharap, tempat penyu bertelur itu bisa menjadi kawasan konservasi untuk melestarikan hewan langka. Jurnalis: Maulana
Fotografer: Maulana
Editor: Mahrus Sholih Editor : Safitri
#Wisata