Radar Semeru - Wisata alam danau Ranupani di Kecamatan Senduro mengalami pendangkalan dan penyusutan debit air akibat tumpukan sedimen lumpur.
Akibatnya, luasan danau yang berada di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hanya tersisa 4,8 hektare.
Kabag TU BB-TNBTS Bambang Suriyono mengatakan, belum diketahui pasti luasan terbaru dari danau.
Baca Juga: Targetkan Pasar Luar Negeri, Pemkab Lumajang Minta Pelaku UMKM Kantongi Legalitas NIB
Sebab, luasan yang diketahui saat ini merupakan data yang diambil pada tahun 2025 lalu.
“Tahun 2024 itu luasannya 5,9 hektar, tahun 2025 setelah pengerukan 4,8 hektare,” ucap Bambang.
Informasi yang dihimpun, secara keseluruhan luasan Ranupani hanya tersisa 30 persen dengan kedalaman hanya 3 meter dari luasan awal.
Menurut Bambang, pihaknya belum bisa memastikan keakuratan dari data tersebut. Sebab, data pendangkalan dan sisa kedalaman danau masih belum dimiliki oleh TNBTS.
“Kalau luas area sisa 30%, saya tidak bisa membenarkan dan menyalahkan. Karena kami juga belum punya data untuk pendangkalan dan kedalaman,” tambahnya.
Baca Juga: Ratusan Balita di Lumajang Terjangkit Pneumonia, Dinkes Imbau Ortu Waspada dan Tak Tunda Berobat
Upaya normalisasi diklaim sudah dilakukan pada tahun 2025 lalu. Namun, pendangkalan disebut terus terjadi dan menyebabkan kawasan danau Ranupani semakin mengecil.
“Untuk normalisasi sudah dilakukan tahun 2025, kondisi sekarang sudah terjadi pendangkalan lagi,” pungkasnya. (son/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh