Tembus 5 Ribu Kasus, Dinkes-P2KB Lumajang Beberkan Grafik Penyakit ISPA Tertinggi pada April

Adeapryanis • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 01:00 WIB
DIPERIKSA: Warga Lumajang saat rutin melakukan cek kesehatan di layanan kesehatan terdekat. (ADE APRYANIS/RADAR SEMERU)
DIPERIKSA: Warga Lumajang saat rutin melakukan cek kesehatan di layanan kesehatan terdekat. (ADE APRYANIS/RADAR SEMERU)

Radar Semeru - Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Lumajang angkanya fluktuatif.

Catatan Dinas Kesehatan dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Lumajang tertinggi berada pada bulan April.

Rinciannya sejak April ada 5.126 kasus, Mei 4.819 kasus, 4.681 kasus pada Juni, 4.821 kasus pada Juli, dan 4.533 kasus pada Agustus.

Baca Juga: Kasus Dugaan Keracunan MBG di Jember Sasar 28 Anak, Satgas Warning SPPG: Jangan Sembrono!

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kabupaten Lumajang, dr. Marshall Trihandono, menjelaskan perubahan jumlah kasus terus dipantau untuk memperoleh gambaran perkembangan penyakit di masyarakat.

“Namun, kami tetap melakukan pemantauan karena yang utama bukan hanya melihat angka temuan dalam satu bulan, tetapi bagaimana perkembangannya dari waktu ke waktu,” ucapnya.

Beberapa wilayah yang berpotensi memiliki kasus sebaran ISPA tertinggi diantaranya adalah Puskesmas Kedungjajang mencatat 2.956 kasus ISPA.

Selanjutnya, Puskesmas Pasirian 2.232 kasus, Puskesmas Pronojiwo 2.210 kasus, Puskesmas Tempeh 2.110 kasus, dan Puskesmas Jatiroto 2.040 kasus.

Baca Juga: Sopir Truk Maut Gucialit Lumajang Masih di Rumah Sakit, Polisi Belum Bisa Gali Keterangan Detail

“Yang kami lihat bukan hanya jumlah kasus pada satu periode, tetapi juga kecenderungan dan perubahannya. Karena itu, pencatatan yang konsisten sangat diperlukan untuk mendukung kewaspadaan dini,” pungkasnya.

Untuk menekan kasus tersebut pihaknya terus melakukan pemantauan melalui surveilans penyakit menggambarkan pola persebaran penyakit yang terjadi di lapangan.

Data yang dilaporkan secara rutin dari fasilitas pelayanan kesehatan bisa menjadi bahan analisa untuk melihat perubahan yang perlu mendapat perhatian. (dea/bud)

Editor : Imron Hidayatullahh
influenza ispa Dinkes P2KB Lumajang Lumajang