Dari Iseng Buka Lemari! Santri Asal Lumajang Sukses Bisnis Preloved Beromzet Jutaan

Adeapryanis • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 08:15 WIB
TEKUN: Pelaku usaha Wardatul Jannah, saat live jualan baju melalui marketplace. (ADE APRYANIS/RAME)
TEKUN: Pelaku usaha Wardatul Jannah, saat live jualan baju melalui marketplace. (ADE APRYANIS/RAME)

Radar Jember - Tak ada yang menyangka, tumpukan baju yang semula hanya memenuhi lemari justru menjadi pintu rezeki bagi Wardatul Jannah.

Berbekal keberanian tampil di depan kamera dan memanfaatkan marketplace, perempuan 24 tahun asal Desa Sumbersari, Kecamatan Rowokangkung, itu kini menekuni bisnis baju preloved.

Kamera ponsel menyala. Tumpukan pakaian sudah tersusun di hadapannya. Sesekali Wardatul Jannah mengambil satu per satu baju, memperlihatkan detail bahan dan modelnya kepada calon pembeli yang mengikuti siaran langsung.

Baca Juga: Gedor Ekonomi Syariah Sekarkijang! BI Jember Dan Pemkab Lumajang Dorong UMKM Naik Level

Hampir dua jam perempuan berusia 24 tahun itu terus berbicara di depan kamera. Tidak tampak canggung meski harus menawarkan puluhan hingga ratusan potong pakaian kepada pembeli yang datang silih berganti di ruang live.

Bagi Wardatul, aktivitas tersebut bukan sekadar mengisi waktu luang. Live selling kini menjadi bagian penting dari perjuangannya membangun usaha sekaligus membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.

Perjalanan itu tidak terjadi secara instan. Pada 2022, kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik. Situasi tersebut membuat Wardatul berpikir untuk tidak terus bergantung kepada orang tua. Ia mulai mencari cara agar bisa memiliki penghasilan sendiri.

Perempuan yang merupakan alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo, tersebut kemudian mencoba memanfaatkan barang yang sudah dimilikinya. Lemari pakaian yang sebelumnya hanya dipenuhi baju yang jarang digunakan justru dilihat sebagai peluang.

Satu per satu pakaian miliknya mulai ia tawarkan melalui marketplace Shopee. Bukan pakaian baru seperti yang banyak dijual pedagang online, melainkan pakaian bekas atau yang kini lebih populer disebut preloved.

Baca Juga: Hidden Gem Wisata Sumber Telu di Pronojiwo, Lumajang Bak Wisata Negeri Dongeng

Meski merupakan pakaian bekas, Wardatul tetap memperhatikan kondisi barang sebelum ditawarkan kepada pembeli. Pakaian yang masih bagus, bersih, dan layak pakai dipisahkan untuk dijual kembali.

Sementara pakaian yang kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk dijual, tidak akan ditawarkan kepada konsumen. “Awalnya ekonomi orang tua sedang tidak baik-baik saja. Akhirnya saya berinisiatif untuk mulai jualan baju dan ternyata banyak juga pembelinya,” ucap Wardatul.

Dari percobaan kecil itu, ia mulai menemukan pasar. Beberapa pakaian seperti gamis, kemeja, hingga blouse miliknya ternyata cukup diminati. Barang-barang yang sebelumnya hanya menumpuk di lemari perlahan berubah menjadi uang.

Melihat peluang tersebut, Wardatul tidak berhenti pada penjualan pakaian milik sendiri. Uang hasil penjualan kemudian ia kumpulkan dan diputar kembali sebagai modal.

Ia mulai membeli pakaian bekas dalam jumlah besar melalui sistem yang oleh para pelaku usaha biasa disebut war. Sistem tersebut membuatnya harus berebut dengan pedagang lain secara online untuk mendapatkan satu bal pakaian.

Modal yang dibutuhkan pun tidak sedikit. Sekali mengikuti war, Wardatul bisa menyiapkan modal sekitar Rp10 juta untuk mendapatkan satu bal pakaian. “Modal yang diputar Rp 10 juta untuk sekali war satu bal baju, tapi nggak semua baju bisa dijual,” tambahnya.

Satu bal pakaian yang didapat tidak serta-merta bisa menghasilkan keuntungan. Justru pekerjaan berat dimulai setelah barang sampai di tangannya.

Wardatul harus membongkar isi bal, kemudian memilah pakaian satu per satu. Ia melihat kondisi bahan, jahitan, warna, model, hingga memastikan tidak ada kerusakan yang membuat pakaian tersebut tidak layak dijual.

Baca Juga: ITB Widya Gama Lumajang Tetapkan Sepuluh Wisudawan   Berprestasi 2026

Dalam satu bal, jumlah pakaian bisa mencapai sekitar 600 potong. Namun, tidak semuanya memiliki nilai jual. Rata-rata sekitar 150 potong pakaian harus dipisahkan karena mengalami kerusakan, berlubang, atau kondisi lainnya yang membuat barang tersebut tidak layak ditawarkan kepada pembeli.

Artinya, hanya pakaian dengan kondisi terbaik yang kemudian masuk ke dalam daftar barang jualan. Seluruh proses tersebut dilakukan Wardatul seorang diri.

Mulai dari membongkar bal pakaian, memilah barang, menyiapkan pakaian untuk sesi live, menawarkan produk kepada pembeli, mencatat pesanan, hingga melakukan packing sebelum barang dikirim.

Rutinitas itu memang melelahkan. Namun, hasil yang diperoleh membuatnya terus bertahan. Salah satu sumber penghasilan terbesar datang dari sesi live selling.

Dalam sekali live yang berlangsung sekitar dua jam, ia bisa mendapatkan keuntungan atau cuan hingga sekitar Rp 1 juta, tergantung jumlah pakaian yang berhasil terjual.

Angka tersebut menjadi penyemangat bagi Wardatul untuk terus mengembangkan usahanya. Baginya, kemampuan berbicara di depan kamera menjadi salah satu kunci untuk menarik perhatian calon pembeli.

Saat live, ia tidak hanya menunjukkan pakaian. Ia juga harus mampu menjelaskan ukuran, model, kondisi, warna, hingga memberikan respons cepat terhadap pertanyaan calon pembeli. “Kemampuan berkomunikasi menjadi penting karena pembeli tidak bisa melihat barang secara langsung,” paparnya. (dwi)

 

 

Editor : Imron Hidayatullahh
preloved baju bekas Bisnis Lumajang