Radar Jember - Tak ada yang mustahil bagi mereka yang berani bermimpi dan bekerja keras. Pepatah itulah yang dipegang teguh oleh Muhammad Afif Darell Ozora Toga.
Pemuda asal Lumajang ini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan jarak bukanlah penghalang untuk menimba ilmu hingga ke Negeri Tirai Bambu, Tiongkok.
Perjalanan Darel, sapaan akrabnya, bukanlah hasil dari keberuntungan semata. Jauh sebelum kakinya menapak di tanah Tiongkok, ia telah merancang masa depannya sejak duduk di bangku SMP.
Baca Juga: Lelaki Di Lumajang Tewas Bersimbah Darah Dihadapan Sang Istri, Begini Kronologinya
Bahasa Mandarin, yang bagi sebagian orang tampak seperti tembok besar yang sulit dipanjat, justru ia jadikan "kendaraan" utama untuk meraih mimpinya.
"Usaha siang dan malam yang dilakoni Darel akhirnya terbayar lunas. Keinginan kuatnya untuk mandiri dan belajar jauh dari rumah adalah sesuatu yang sudah kami bicarakan jauh-jauh hari," ungkap Niken Suyanti, sang ibu.
Selama satu tahun di Guangxi, Darel merasakan kontrasnya kehidupan. Tantangan bahasa, disiplin pola pembelajaran yang sangat ketat, hingga adaptasi lingkungan yang drastis menjadi "makanan" sehari-harinya.
Namun, alih-alih merasa terasing, Darel justru melihat itu sebagai peluang. Ia tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga menjadi duta bagi tanah kelahirannya sendiri.
Baca Juga: MBG Beroperasi, Harga Ayam di Lumajang Merangkak Naik
Ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Sambil menyelami ilmu pengetahuan di Tiongkok, Darel aktif mempromosikan pariwisata Lumajang.
Di tengah pergaulan internasional bersama siswa dari Thailand, Vietnam, Laos, hingga Malaysia, ia sering kali menjadi pusat perhatian saat menceritakan pesona alam Lumajang.
"Yang terpenting adalah belajar sungguh-sungguh. Apa yang diinginkan pasti tercapai jika dibarengi dengan keyakinan. Ada banyak pengalaman berharga selama di sana, dan dari situ, kita punya kesempatan besar untuk membawa nama Lumajang ke kancah internasional, salah satunya dengan mengenalkan keagungan Tumpak Sewu," ucap Darel penuh semangat saat dihubungi melalui pesan singkat.
Di balik kesuksesan Darel, ada peran besar Niken Suyanti yang sangat bijak. Bagi Niken, mendidik anak adalah tentang kepercayaan.
Ia mengibaratkan anak seperti kertas putih; orang tua hanyalah penuntun agar goresan tinta di atasnya menjadi lukisan yang indah.
Niken mengaku, dukungan penuh keluarga bukan berarti ia melepas Darel begitu saja. Sejak awal, ia memastikan Darel memiliki bekal bahasa yang mumpuni agar sang putra tidak mengalami gegar budaya atau kesulitan berinteraksi saat berada di negeri orang.
Baca Juga: Dampak Musim Kemarau, Ratusan KK di Lumajang Mulai Dapat Air Bersih
"Alhamdulillah, anaknya juga nurut dan punya tekad kuat. Kami sebagai orang tua harus bisa memahami bakat dan keinginan anak. Saat dia punya minat, kami arahkan mana yang bagus dan tidak. Kuncinya memang harus percaya, bahwa jika anak diarahkan dengan kasih sayang, mereka pasti bisa membuktikan kemampuannya," tutup Niken dengan bangga.
Kisah Darel menjadi pengingat bagi generasi muda di Lumajang bahwa cakrawala dunia itu luas. Dengan kemauan keras dan dukungan keluarga, anak daerah pun bisa berdiri sejajar di bangku pendidikan internasional. (dea/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh