Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Update Aktivitas Pertambangan Pasir di Lumajang: Menambang Dini Hari Tertimpa Lahar

Atieqson • Minggu, 21 Juni 2026 | 22:09 WIB
BEROPERASI: Penampakan alat berat saat melakukan aktivitas pertambangan di siang hari, kemarin.(ATIEQSON MAR IQBAL/RAME)
BEROPERASI: Penampakan alat berat saat melakukan aktivitas pertambangan di siang hari, kemarin.(ATIEQSON MAR IQBAL/RAME)

 

TOMPOKERSAN, Radar Semeru - Aktivitas pertambangan pasir pada malam hari di aliran Gunung Semeru memakan korban. Veri Irawan, 33, penambang asal Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, kini harus dirawat di RSUD dr. Haryoto Lumajang.

Sebab, dia tertimbun tebing material sisa Awan Panas Guguran (APG) Semeru yang kondisinya ternyata masih panas, Sabtu dini hari (20/6). Peristiwa nahas itu terjadi sekitar pukul 01.00 WIB.

Korban tidak sendirian, dia menambang bersama 16 rekannya di kawasan sekitar Jembatan Gladak Perak. Tanpa disadari, tebing pasir di dekat korban mendadak ambrol dan langsung mengubur tubuh Veri.

“Jadi korban ini menambang jam 1 dini hari tadi, yang seharusnya tidak diperbolehkan," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho kemarin.

Baca Juga: Info Laka Lantas Lumajang: Dua Truk Adu Banteng, 1 Orang Tewas

Isnugroho menjelaskan, tebing pasir yang longsor tersebut bukan sekadar tumpukan pasir biasa. Lokasi tersebut merupakan titik tumpukan material sisa APG Gunung Semeru yang menerjang tahun lalu.

Meski sudah mengendap lebih dari enam bulan, endapan vulkanis tersebut masih menyimpan suhu panas yang sangat tinggi di bagian dalamnya.

"Kondisi material di dalam itu sebenarnya masih panas. Jadi kalau terkena kulit, dampaknya ya bisa langsung menyebabkan luka bakar serius," jelas mantan Camat tersebut.

Akibat kejadian itu, Veri langsung dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka bakar ekstrem. "Korban mengalami luka bakar derajat dua, hampir 80 persen di sekujur tubuhnya," tambahnya.

Diakui, tidak sedikit para penambang tradisional melakukan aktivitas pada malam. Padahal, bahaya sekunder seperti longsoran material panas maupun APG susulan yang mengarah ke Besuk Kobokan sewaktu-waktu bisa terjadi tanpa peringatan.

"Aktivitas pertambangan manual ini sering dilakukan warga pada malam hari untuk menghindari petugas. Padahal ini sangat berbahaya karena jarak pandang terbatas. Kami mengimbau dengan sangat agar tidak ada lagi yang nekat beraktivitas di jalur rawan, terutama saat malam hari,” pungkasnya. (son/bud)

Editor : M. Ainul Budi
#berita lumajang #Tambang Pasir #Lahar Semeru #Lumajang