Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

TRADISI! Gunungan 6.000 Tempe di Lumajang Jadi Rebutan Warga

Atieqson • Kamis, 18 Juni 2026 | 14:29 WIB
MERIAH: Sejumlah warga saat berebut gunungan tempe di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, kemarin.(ATIEQSON MAR IQBAL/RAME)
MERIAH: Sejumlah warga saat berebut gunungan tempe di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko, kemarin.(ATIEQSON MAR IQBAL/RAME)

 

LABRUK KIDUL, Radar Semeru - Kemeriahan menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah begitu terasa di Desa Labruk Kidul, Kecamatan Sumbersuko. Ratusan warga tumpah ruah di jalanan desa untuk mengikuti tradisi unik, Grebek Tempe Wedok.

Sebuah tradisi lokal yang digagas para perajin tempe sebagai wujud syukur atas melimpahnya rezeki. Tampak sebuah gunungan tinggi menjulang berbentuk menara diarak keliling kampung.

Menariknya, gunungan tersebut bukan berisi sayur atau buah, melainkan susunan rapi lebih dari 6.000 biji tempe wedok.

Baca Juga: DPRD Lumajang Dukung Tekan Pengeluaran Anggaran Soal Mobil Dinas

Di puncaknya, tampak dupa yang menyala dan kelapa muda sebagai pelengkap ritual adat, diiringi gema selawat nabi yang sahut-menyahut sepanjang rute kirab.

Suasana semakin pecah saat prosesi arakan selesai. Gunungan tempe tersebut langsung menjadi sasaran rebutan warga. Tanpa komando, warga saling berdesakan, bahkan beberapa di antaranya nekat memanjat kerangka gunungan demi mendapatkan tempe lebih banyak.

Agar adil, beberapa panitia di atas gunungan berinisiatif menghamburkan tempe ke arah belakang kerumunan. Warga percaya, tempe wedok yang sudah diarak dan didoakan ini membawa berkah tersendiri.

"Seru sekali bisa ikut berebut tempe gratis. Ini mau langsung dibawa pulang buat lauk masak di rumah. Insyaallah membawa berkah, kan tadi sepanjang jalan sudah didoakan dan dibacakan selawat," ujar Amin, salah satu warga setempat dengan wajah semringah.

Sementara itu, Kepala Desa Labruk Kidul, Agus Irianto mengaku bangga atas kekompakan warga. Ia menyebut tradisi Grebek Tempe Wedok ini murni lahir dari swadaya dan semangat gotong royong masyarakat serta para perajin tempe setempat, tanpa menyusahkan pihak luar.

"Sejak pertama kali digelar tahun 2025 lalu hingga tahun kedua ini, kegiatan selalu sukses. Masyarakat di sini tidak pernah mengeluh dan tidak menggantungkan kegiatan ini kepada pemerintah. Semua dilakukan bersama-sama," pungkasnya. (son/bud)

 

Editor : M. Ainul Budi
#TRADISI #gunungan #Lumajang