Radar Jember - Di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas, tawa anak-anak kerap berpadu dengan percakapan dalam berbagai bahasa.
Siapa sangka, tempat yang kini menjadi ruang belajar dan bertukar budaya itu lahir dari sebuah keputusan besar yang diambil seorang perempuan bernama Siti Murniasih.
Sudah 11 tahun terakhir, Asih, sapaan akrabnya aktif bergerak di bidang pemberdayaan komunitas melalui Omah Sinau Gesang. Sebuah ruang kreatif yang ia dirikan pada 2015. Namun perjalanan itu tidak dimulai begitu saja.
Baca Juga: Diyakini Dongkrak Ekonomi Kreatif, Segoro Topeng Kaliwungu Lumajang Masuk Program KEN 2026
Sebelum mendirikan Omah Sinau Gesang, Asih dikenal aktif bekerja bersama berbagai lembaga internasional.
Ia terlibat dalam program pemberdayaan dan pendampingan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia, terutama kawasan Indonesia Timur.
Karier dan pengalaman yang dimilikinya terbilang menjanjikan. Namun di tengah kesibukan tersebut, Asih justru mengambil keputusan yang tidak biasa.
Ia memilih meninggalkan dunia profesional yang telah membesarkan namanya dan menapaki jalan pengabdian sebagai relawan.
Keputusan itu kemudian menjadi titik awal lahirnya Omah Sinau Gesang. Dari rumahnya sendiri, Asih menciptakan sebuah ruang yang terbuka bagi siapa saja yang ingin belajar, berbagi pengalaman, dan bertumbuh bersama.
Baca Juga: Progres Pemasangan Baru 1.380 CCTV, Bupati Lumajang Pantau Langsung
Halaman rumah yang semula biasa saja disulap menjadi tempat singgah yang nyaman dan aman. Tidak hanya untuk anak-anak sekitar, tetapi juga bagi para tamu dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Konsep pemberdayaan yang diusung Omah Sinau Gesang ternyata menarik perhatian banyak orang. Bahkan wisatawan asing dari berbagai negara rutin datang untuk mengikuti kegiatan yang diselenggarakan. Tak sedikit dari mereka yang rela bermalam di fasilitas sederhana yang telah disediakan.
“Melihat potensi Lumajang cukup baik, alhamdulillah banyak bule yang tertarik dengan setiap kegiatan kami. Karena kita juga berupaya mengenalkan kebudayaan, begitu pun sebaliknya,” ujar Asih.
Setiap pekan, sejumlah warga negara asing datang dan berinteraksi langsung dengan masyarakat setempat. Dari pertemuan-pertemuan sederhana itulah tercipta ruang belajar yang hidup.
Anak-anak di lingkungan sekitar menjadi salah satu kelompok yang paling merasakan manfaatnya. Mereka tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga kesempatan berlatih berkomunikasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda.
Baca Juga: Sampah Rumah Tangga di Lumajang Menggunung, Timbulkan Bau Tak Sedap
“Kami sediakan ruang belajar tersendiri untuk mereka. Meskipun di halaman rumah, interaksi yang dibangun mampu menambah semangat belajar,” tuturnya.
Bagi Asih, pemberdayaan tidak selalu harus dimulai dengan program besar atau fasilitas mewah. Kadang, perubahan bisa lahir dari sebuah rumah yang pintunya selalu terbuka bagi siapa saja.
Lewat dedikasi, keberanian mengambil pilihan hidup dan konsistensinya selama lebih dari satu dekade. Asih membuktikan bahwa ruang belajar bisa tumbuh dari ketulusan.
Dari sudut sederhana di Lumajang, Omah Sinau Gesang terus menjadi tempat bertemunya mimpi, pengetahuan, dan harapan bagi banyak orang. (dea/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh