Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Ratusan Juta Tabungan Ludes Demi Alat Jaranan, Pemuda Lumajang Ini Sempat Diamuk Orang Tua Habis-habisan!

Adeapryanis • Jumat, 22 Mei 2026 | 07:00 WIB
AKSI: Penampilan kesenian saat pelaksanaan kegiatan di Kawasan Gunung Bromo, beberapa waktu lalu.  (SIROJUL FOR RAME)
AKSI: Penampilan kesenian saat pelaksanaan kegiatan di Kawasan Gunung Bromo, beberapa waktu lalu.  (SIROJUL FOR RAME)

Radar Jember - Sudah delapan tahun pemuda itu melakoni perannya sebagai pelaku kesenian jaranan di Lumajang. Dengan bekal menjadi pelatih seni yang dia dapat dari berguru di Kediri, sebagai pusat kesenian jaranan di Jawa Timur.

Alasannya tak muluk-muluk, karena melihat kesenian itu mulai luntur dan dianggap tak menonjolkan identitas sebenarnya. Banyak beberapa rangkaian sendratari jaranan yang mulai tak sesuai runtutannya.

Tak hanya itu saja, alasan lainnya adalah mengubah perilaku anak-anak remaja lingkungan sekitar yang mulai tak karuan. Dia melihat, lingkungannya kurang baik bahkan banyak dari remaja tersebut berprilaku menyimpang seperti minum-minuman keras.

Baca Juga: Duel Carok di Klakah, Lumajang Menyebabkan Satu Orang Meninggal Dunia

Perasaan gelisah ini tak lain menjadi penyemangat tersendiri untuk putar haluan menekuni kesenian itu. Bahkan tak mudah untuk mengajak anak-anak sekitar. Perlu bujuk rayu dan pendekatan lebih intens agar perilaku itu bisa dikurangi.

Berkat, komitmen dan kemauannya itu beberapa dari anak-anak yang suka minuman-minuman akhirnya mau bergabung. Meskipun tak sepenuhnya mereka berhenti, namun setidaknya intensitasnya berkurang. Ketegasan dan keberanian ini membuat dirinya bisa dipercaya oleh lingkungan sekitar.

Meskipun tabungan ratusan  juta ludes, untuk mendukung kebutuhan peralatan kesenian. Sebab harga setiap alat yang dibeli nominalnya fantastis.

“Sempat dimarahi orang tua karena tabungannya habis. Tapi saya coba memberi pemahaman karena ini kebutuhan dan untuk kemajuan anak-anak sekitar. Akhirnya orang tua saya memahami,” ucapnya.

Perjuangannya tak mudah, beberapa dari anggota keluarga dan wali murid anggotanya sempat menentang aksinya itu. Beberapa menganggap ada beberapa ritual dalam kesenian itu yang dianggap menyimpang karena menggunakan sesaji.

Baca Juga: Buruh Tambang Pasir di Lumajang dapat Jaminan BPJS TK, Baru Tercapai 1.100 Peserta

Termasuk, untuk meyakinkan orang tua, maka anggota pun perlu effort besar. Sebab, menurut Sirojul, sebagian masyarakat menilai jika kesenian jaranan itu identik dengan mengkonsumsi minuman keras.

Dia mampu mengubah perilaku menyimpang itu menjadi lebih baik. “Memang ada yang pro ada yang kontra. Tapi itu tantangan, kami tinggal tunjukkan yang terbaik,” ucapnya.

Berkat kerja keras dan kegigihannya, total sejauh ini ada 60 anggota yang tergabung dalam kelompok keseniannya. Dia terus menunjukkan prestasi melalui tampilan kesenian di berbagai kegiatan dan mengikuti penampilan kelas nasional. (dwi)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#kesenian tradisional #jaranan #Kesenian #Lumajang