RADAR JEMBER - Aksi pelemparan batu di Lumajag disebut hanya ingin membuat korban menderita, dengan maraknya aksi kejahatan yang terus terjadi.
Pasca begal dan curanmor, dilanjut dengan aksi pelemparan batu dan menjadi aksi kejahatan yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandi Siregar, menjelaskan pola aksi yang terjadi belakangan ini berbeda dengan kasus kriminal jalanan sebelumnya.
Dahulu pelaku kejahatan jalanan identik dengan pemalakan atau perampasan, kini pelaku melakukan aksi secara acak hanya untuk mencelakai korban.
Menurutnya, fenomena tersebut diduga dipengaruhi efek ikut-ikutan atau fomo yang berkembang di media sosial.
Karena itu, aparat kini tidak hanya fokus melakukan patroli lapangan, tetapi juga memantau pola kejadian yang mulai berulang di beberapa titik berbeda.
“Pelaku hanya ingin melempar dan membuat orang lain menderita. Ini fenomena baru, pelaku hanya melakukan pelemparan yang membahayakan pengguna jalan,” ucapnya.
Saat ini, pihak kepolisian telah memetakan sejumlah titik rawan yang kerap menjadi lokasi aksi pelemparan batu, di antaranya kawasan Sumbersuko, Tempeh, Jatiroto hingga Jalur Lintas Selatan (JLS).
Mayoritas lokasi tersebut berada di jalur minim penerangan dan relatif sepi pada malam hingga dini hari.
Sehingga pelaku bebas melancarkan aksi pelemparan setelat itu pelaku langsung melarikan diri.
Polres Lumajang terus memperketat patroli malam dan meningkatkan pengawasan di wilayah rawan dan melakukan penyelidikan intensif untuk memburu pelaku serta memetakan pola dan kelompok yang terlibat.
Namun hingga saat ini, belum ada pelaku yang berhasil diamankan.
“Pelaku belum ada yang berhasil kita tangkap. Saat ini masih dalam proses penyelidikan dan pencarian,” pungkasnya. (dea/bud)
Editor : Adeapryanis