Radar Jember - Andri mengisahkan awal perjalanannya. Saat membelah bambu, ia menemukan lebah kecil dengan madu yang melimpah.
Madu tersebut kemudian ia peras secara sederhana dan dijual. Tidak disangka, madu itu laku keras di pasaran.
“Awalnya iseng, tapi kemudian saya berpikir, kalau madu ini bisa bernilai rupiah, kenapa tidak dikembangkan lebih serius?” ujarnya, kemarin (7/5).
Baca Juga: Wisata Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang Masih Ada Pungli? Area Dasar Sungai Glidik Mulai Dijaga
Melihat potensi dan khasiat yang menjanjikan, dia mulai serius membudidayakan lebah klanceng.
Keberhasilan ini tidak hanya menguntungkan dirinya, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi warga sekitar.
Dengan sistem local leader, ia bekerja sama dengan masyarakat desa untuk mengumpulkan bibit lebah, sehingga banyak pemuda ikut menekuni usaha serupa.
"Warga merasa bangga karena potensi alam bisa bernilai ekonomi. Mereka ikut terbantu dari segi penghasilan,” kata Andri. Pemilihan budi daya lebah klanceng tak lain karena lebih mudah dan relatif ramah lingkungan.
Prosesnya sederhana mulai dari menyediakan tempat kering untuk koloni, memindahkan bibit lebah (koloni lebah terdiri dari ratu, pekerja, dan jantan) dari bambu, hingga menjaga keberadaan ratu lebah dalam kotak.
Baca Juga: Update Kriminal Lumajang: Tiga Kendaraan Jadi Korban dalam Semalam
Untuk menjaga kualitas, Andri memanfaatkan vegetasi bunga di sekitar rumah dan menjaga kebersihan kotak lebah dari ancaman semut.
Meskipun di awal kendala yang dihadapi adalah sengatan lebah seringkali membuat beberapa bagian tubuh terasa sakit.
Hal ini karena kurangnya kesiapan alat tempur saat panen madu. Namun, seiring berjalannya waktu alat pelindung diri mulai digunakan dengan benar dan tepat. Drama tersengat lebah pun mulai berkurang.
Dia pun mulai lebih nyaman dan fokus untuk budi daya tawon dengan hasil yang menjanjikan. Bahkan orderan madu dari hasil panen cukup melimpah karena khasiatnya mampu menyehatkan tubuh.
Kini, usaha kecil itu tumbuh besar. Andri memiliki 1.100 kotak lebah klanceng yang menghasilkan rata-rata 10 liter madu setiap bulan.
Dengan harga Rp 300 ribu per liter, omzet yang diperoleh mencapai Rp 3 juta per bulan. Pemasarannya pun dilakukan melalui media sosial dan jaringan reseller sehingga mampu meraup banyak pembeli.
Baca Juga: DPRD Lumajang: Penjaringan Perangkat Desa Diminta Transparan
Ke depan dia ingin menjadikan madu klanceng sebagai komoditas unggulan Lumajang sekaligus ikon daerah yang mampu bersaing di pasar nasional.
“Anak muda jangan takut mencoba. Mulailah dari apa yang ada, manfaatkan potensi sekitar. Kalau saya bisa memulai dari bambu di rumah, teman-teman juga pasti bisa,” pesannya. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh