Radar Semeru - Seorang traveler asal Lumajang, Dannar Fardian Affandi, berhasil mengubah hobi jalan-jalan menjadi peluang menghasilkan cuan.
Berkat konten travelling yang menarik, ia kini bisa liburan hampir setiap minggu tanpa biaya, bahkan mendapat bayaran dari kerja sama dengan hotel dan agen wisata serta penghasilan dari media sosial.
Meski terlihat menyenangkan, ia tetap dituntut konsisten membuat dan mengedit konten agar tetap menarik dan terus dilirik brand.
Baca Juga: Inspirasi Kartini dari Jember: Ning Ghyta Ajak Perempuan Berani Bermimpi dan Bergerak Nyata
Di sudut kamar sederhana di Desa Munder, Kecamatan Yosowilangun, layar ponsel milik Dannar Fardian Affandi tak pernah benar-benar sepi. Notifikasi demi notifikasi masuk.
Mulai dari tawaran hotel, agen wisata, hingga pesan kolaborasi. Siapa sangka, dari kebiasaan “iseng” merekam perjalanan, kini ia bisa liburan hampir setiap minggu. Gratis, bahkan dibayar.
Pemuda 29 tahun asal Lumajang itu tak pernah menyangka hobinya menjelajah tempat wisata justru membuka jalan rezeki. Dulu, setiap perjalanan hanya didokumentasikan sekadar untuk kenangan. Video sederhana, tanpa konsep muluk-muluk.
Namun, satu momen mengubah segalanya. “Sempat ada satu video yang viewers-nya tinggi. Dari situ mulai lebih serius ngonten,” ujarnya.
Sejak saat itu, ritme hidupnya berubah. Kamera ponsel bukan lagi sekadar alat dokumentasi, tapi juga “tiket” menuju berbagai destinasi. Mulai dari pantai-pantai di Jawa Timur hingga perjalanan terjauh ke Yogyakarta.
Tawaran pun berdatangan. Hotel, agen wisata, hingga brand mulai melirik kontennya yang dinilai ringan, informatif, dan dekat dengan penonton. Tanpa banyak pertimbangan, semua peluang itu diambil.
Hasilnya? Liburan tanpa biaya. Dalam satu perjalanan, Dannar bisa menghabiskan waktu hingga empat hari, berpindah dari satu destinasi ke destinasi lain. Semua ditanggung.
Bahkan, tak jarang ia justru mendapat bayaran. “Sudah gratis, kadang masih dapat fee juga,” imbuhnya sambil tersenyum.
Kini, setidaknya 24 hotel telah bekerja sama dengannya. Sementara 14 lainnya masih menunggu jadwal kunjungan. Dari situ, pundi-pundi rupiah ikut mengalir baik dari kerja sama brand maupun monetisasi media sosial.
Jumlahnya pun tak main-main. Bisa mencapai jutaan rupiah dari satu periode konten. Namun di balik gemerlap jalan-jalan gratis, ada “harga” yang tetap harus dibayar secara konsistensi.
Setelah lelah berlibur, pekerjaan berikutnya justru menanti. Mengedit video. Menyusun cerita. Memastikan setiap momen tersaji menarik.
Di sinilah tantangan terbesarnya muncul. “Kendalanya itu rasa malas. Sudah capek have fun, terus harus edit. Kadang videonya bisa mangkrak sampai tiga hari,” akunya.
Meski begitu, semangatnya tak surut. Justru, peluang untuk terus berkembang membuatnya semakin tertantang. Ia ingin menembus kerja sama dengan brand yang lebih besar, sekaligus terus mengenalkan potensi wisata daerah.
Bagi Dannar, travelling bukan lagi sekadar hobi. Tapi sudah menjadi jalan hidup yang membawanya keliling tempat baru, bertemu pengalaman baru, dan tentu saja menghasilkan cuan. (dea/dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh