Radar Jember - Amaruddin Furqoni, jadi salah satu pemuda di Lumajang yang berbakat dalam melukis. Kemahirannya itu sempat meredup karena banyaknya kesibukan selama bekerja di kantor. Semangat melukis kembali muncul setelah dapat orderan melukis band.
Di usianya yang menginjak 25 tahun, Amaruddin sempat menjauh dari dunia yang ia cintai. Kesibukan pekerjaan membuat hobinya sebagai pelukis harus terhenti.
Tahun 2024 menjadi fase vakum, di mana kanvas dan pensil hanya tersimpan rapi tanpa tersentuh. Namun, kerinduan pada seni tak pernah benar-benar hilang.
Baca Juga: KAI Hadir Di Job Fair Universitas Diponegoro Tahun 2026, Buka Rekrutmen untuk Lulusan D3 hingga S1
Perlahan, pada 2025, ia mulai kembali. Awalnya ragu, namun keyakinan itu tumbuh seiring waktu. Hingga akhirnya, di tahun 2026, ia memutuskan untuk benar-benar serius menekuni dunia lukis.
Titik baliknya datang saat sebuah perusahaan di Lumajang memberinya kesempatan untuk melukis wajah personel band d'Masiv. Tawaran itu menjadi pemantik semangat yang lama terpendam.
“Terakhir melukis tahun 2023, lalu 2024 vakum karena pekerjaan. Tahun 2025 mulai coba lagi, dan 2026 ini mulai konsisten sampai dapat tawaran melukis d’Masiv. Itu yang bikin saya bangkit lagi,” ujarnya.
Sejak saat itu, pesanan mulai berdatangan. Wajah-wajah orang tua, pasangan, hingga orang terkasih menjadi objek yang paling sering diminta. Lukisannya bukan sekadar gambar, melainkan cinderamata penuh makna—cara lain untuk mengabadikan kenangan.
Baca Juga: Jembatan Glundengan Jenggawah Jember Akhirnya Tuntas Diperbaiki, Begini Kondisi Terbarunya
Kemampuannya pun semakin dikenal luas, terutama setelah ia mulai aktif memasarkan karya melalui media sosial. Branding yang ia bangun perlahan membuahkan hasil. Karyanya dinilai memiliki “nyawa”, seolah mampu menangkap emosi dari setiap wajah yang dilukis.
Namun Amaruddin tak ingin berhenti di situ. Ia menantang dirinya keluar dari zona nyaman dan melukis di ruang publik. Salah satu tempat yang ia pilih adalah kawasan Alun-Alun Lumajang.
Di tengah hiruk pikuk pengunjung, suara kendaraan, dan tatapan orang-orang yang penasaran, ia mencoba tetap fokus pada setiap detail goresan.
Bukan hal mudah. Ada rasa canggung, bahkan takut, ketika banyak pasang mata memperhatikan setiap gerak tangannya. Apalagi ini menjadi pengalaman pertamanya melukis di tempat umum.
“Sebetulnya lebih ke rasa takut karena baru pertama dan dilihat banyak orang. Jadi merasa khawatir saja,” ungkapnya jujur.
Meski begitu, perlahan rasa gugup itu berubah menjadi energi. Ia belajar mengendalikan fokus di tengah distraksi, menjaga ketelitian di ruang terbuka, dan tetap setia pada kualitas karyanya. Baginya, ini bukan hanya soal melukis, tetapi juga tentang keberanian menunjukkan diri.
Kini, langkah kecil itu mulai membuahkan hasil. Selain semakin dikenal, karya Amaruddin juga mampu menghasilkan pendapatan hingga jutaan rupiah setiap bulan. Lebih dari itu, ia berhasil membuktikan bahwa jeda bukan akhir dari segalanya, melainkan ruang untuk kembali melangkah lebih kuat. (dwi)
Editor : Imron Hidayatullahh