WONOREJO, Radar Semeru – Pemkab Lumajang mulai menggeser paradigma pembangunan sektor pertanian.
Tidak lagi sekadar memberikan bantuan fisik, modernisasi kini diarahkan pada reformasi menyeluruh sistem produksi guna menekan biaya dan meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Langkah strategis ini ditandai dengan penyerahan dua unit combine harvester dan satu unit drone pertanian kepada Brigade Pangan di halaman Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, kemarin.
Bupati Lumajang Indah Amperawati mengatakan, distribusi alat dan mesin pertanian (alsintan) bukan sekadar output program, melainkan jembatan menuju perubahan struktur ekonomi daerah.
Mengingat sektor pertanian menyumbang sekitar 32 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), efisiensi di hulu menjadi sangat krusial.
“Modernisasi tidak boleh berhenti pada distribusi alat, tetapi harus memastikan perubahan nyata pada sistem produksi. Yang kita bangun bukan sekadar alat, tetapi ekosistem mulai dari SDM, kelembagaan, hingga tata kelola,” katanya.
Kehadiran drone pertanian menandai era baru pertanian presisi di Lumajang.
Berbeda dengan cara konvensional, drone memungkinkan penggunaan input produksi seperti pupuk dan pestisida dilakukan secara terukur sesuai kondisi spesifik lahan.
Hal ini tidak hanya memangkas biaya operasional, tetapi juga mendukung praktik pertanian ramah lingkungan.
Di sisi lain, penggunaan combine harvester diharapkan mampu
menutup celah kebocoran hasil panen yang selama ini terjadi akibat pola panen tradisional.
"Mengubah paradigma dari pertanian berbasis tenaga kerja menjadi pertanian berbasis manajemen. Petani harus menjadi pengambil keputusan yang didukung oleh data dan teknologi," pungkasnya. (son)
Editor : Adeapryanis