Radar Jember - Tahsya Amalia Rahma, ibu rumah tangga asal Sumbersuko, Lumajang ini berhasil mengubah dapur kecilnya menjadi usaha roti abon dengan ribuan orderan setiap hari.
Berawal seorang diri, ia kini memberdayakan belasan emak-emak sekitar, memberi mereka penghasilan mandiri sambil memenuhi pesanan dari tujuh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lumajang.
Di balik aroma manis roti abon yang mengepul dari ruang produksi sederhana, terlihat kesibukan yang tak kalah panas.
Emak-emak mencetak adonan, memanggang, hingga membungkus roti satu per satu. Semua dilakukan dengan cekatan, penuh ketelitian, dan tentu saja berpeluh.
Di sinilah karya seorang ibu rumah tangga muda bernama Tahsya Amalia Rahma, 30, mulai menemukan sayapnya.
Perjalanan Tahsya bukan sekadar soal membuat roti. Dia memulainya seorang diri, berkeliling dari satu calon pembeli ke pembeli lain di SPPG Lumajang, membawa tester roti dengan sabar. Ada yang cocok, ada yang tidak, namun tekadnya tetap membara.
Lambat laun, tujuh SPPG atau dapur MBG sepakat melakukan order. Dari situlah mimpi untuk memberdayakan lingkungan sekitar lahir.
Awalnya hanya empat emak-emak yang direkrut, kini bertambah menjadi belasan untuk mengimbanginya ribuan orderan harian yang mencapai 21 ribu pcs.
Setiap hari, aroma roti yang keluar dari dapur kecil itu menjadi saksi kerja keras dan kegigihan.
Lengan mereka pegal, tangan lelah dari mencetak adonan yang tak kunjung habis, namun senyum tak pernah luntur.
“Kadang capek juga karena prosesnya manual, apalagi cetaknya sampai ribuan roti. Tapi senang bisa dapat uang sendiri untuk tambah-tambah kebutuhan rumah,” kata Sumiati, salah satu tenaga kerja.
Di balik tiap potong roti, terselip cerita tentang keberanian, kemandirian, dan semangat berbagi rezeki.
Dari dapur kecil di Sumbersuko, Tahsya bukan hanya menebar manisnya roti, tapi juga manisnya harapan bagi emak-emak yang kini bisa tersenyum mandiri. (dea)
Editor : Imron Hidayatullahh