Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kisah Suka Duka Pencuci Ompreng MBG di Lumajang, Tubuh lelah, Tangan Perih, Terbayar dengan Semua Hutang Lunas

Adeapryanis • Kamis, 19 Februari 2026 | 11:45 WIB
BERKAH: Relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sarikemuning, Senduro, Lumajang saat mengelap ompreng.(ADE APRYANIS/RADAR JEMBER)
BERKAH: Relawan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sarikemuning, Senduro, Lumajang saat mengelap ompreng.(ADE APRYANIS/RADAR JEMBER)

Para pencuci ompreng menjadi pekerjaan yang berat di dapur MBG. Di balik itu jeri payah itu semua, terdapat ganjaran setimpal. Termasuk semua hutang lunas berkat kerja di dapur MBG. Itulah yang dirasakan Ida Agustin, pegawai dapur MBG di Lumajang.

ADE APRIANIS – Lumajang, Radar Jember

Air dingin mengalir tanpa henti membasahi jemarinya.

Bau sisa makanan bercampur sabun menguar di dalam ruangan besar itu. Satu per satu ompreng dilap hingga kering, disusun rapi, lalu kembali kosong menanti esok hari.

Di sudut ruangan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sarikemuning, Senduro, Lumajang. Terdapat sosok perempuan paruh baya itu tak pernah berhenti bergerak. 

Ida Agustin 48, warga Desa Sarikemuning, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang yang menautkan harapan di setiap ompreng yang ia bersihkan.

Sejak bergabung sebagai relawan cuci ompreng dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), hari-harinya berubah.

Ia memulai pekerjaan sejak siang hingga sore, menunggu armada MBG datang membawa ratusan bahkan ribuan ompreng berisi sisa makanan.

Tak serta-merta dicuci, Ida lebih dulu membersihkan sisa nasi, sayur, dan lauk yang menempel.

Sisa makanan itu dibuang ke penampungan sampah sebelum ompreng direndam dan disabuni. Tangan yang tak lagi mulus itu cekatan menyikat bagian pinggir yang kerap dipenuhi minyak membandel.

“Yang susah itu kalau minyaknya banyak, harus benar-benar bersih. Soalnya ini untuk keselamatan penerima manfaat juga,” tuturnya.

Dinginnya air dan banyaknya sabun membuat kulit tangannya kerap iritasi. Ia sebenarnya bisa memakai sarung tangan, tetapi memilih tidak. Baginya, sarung tangan justru membuat ompreng licin dan rawan terjatuh.

“Awal-awal keriput dan iritasi karena tidak biasa. Tapi lama-lama sudah terbiasa meskipun tidak pakai sarung tangan,” ucapnya pelan.

Meski pekerjaan itu tergolong baru baginya terlebih dilakukan di luar rumah Ida tak pernah mengeluh. Bulan pertama terasa berat.

Tubuhnya lelah, tangannya perih. Namun perlahan ia mulai menikmati ritme pekerjaan tersebut. Apalagi saat menerima upah pertamanya.

Nominalnya mungkin tak besar. Namun bagi Ida, itu adalah hasil keringatnya sendiri. Sebuah kebanggaan yang tak ternilai. Kini ia tak lagi sepenuhnya bergantung pada suami untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Alhamdulillah jadi punya penghasilan sendiri dan tidak menunggu pemberian dari suami terus. Dulu kalau mau kasih orang tua uang kadang sungkan, karena suami yang cari nafkah,” katanya, matanya berkaca-kaca.

Kini ia bisa membantu orang tuanya tanpa rasa sungkan. Ia juga bisa membeli kebutuhan rumah tangga dari hasil kerjanya sendiri. Bahkan, perlahan-lahan, utang yang sempat membelit akibat kebutuhan ekonomi berhasil ia lunasi.

Dulu, ia kerap meminjam uang kepada saudara untuk mencukupi kebutuhan. Sekarang, dari upah mencuci ompreng, ia mencicil utang itu hingga lunas. Meski dibayar bertahap, beban di pundaknya terasa jauh lebih ringan.

Program MBG bukan sekadar pekerjaan bagi Ida. Lebih dari itu, ia menjadi jalan bangkit dari himpitan ekonomi. Dari balik dinginnya air dan perihnya kulit yang terkelupas, Ida menemukan harga diri dan kemandirian. “Sekarang lebih bersyukur. Hutang terbayar, hati lebih lega, dan bisa menabung sedikit demi sedikit,” pungkasnya. (dwi)

 

Editor : M. Ainul Budi
#dapur MBG #SPPG #senduro #Mbg #Lumajang