Radar Jember - Erupsi gunung Semeru yang terjadi pada Rabu (19/11) lalu bukan hanya merusak rumah milik warga di Dusun Gumukmas dan Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang.
Hektaran tanaman juga terdampak. Jika tak diatasi, tanaman cabai, tomat, padi dan lainnya bisa mati bahkan gagal panen.
Karena erupsi dari gunung Semeru juga mengeluarkan abu vulkanis.
Paling terdampak yakni tanaman cabai dan tanaman tomat.
Seperti ribuan tanaman cabai dan tomat milik Imron Rosidi, 38, warga Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Selain Imron, juga ada petani lain yang langsung mati karena diterjang lahar dingin saat Gunung Semeru erupsi.
Imron mengaku, ribuan tanaman cabai besar yang baru berbuah itu ikut terdampak.
Daun dan buah cabainya tertutup abu vulkanis. Sehingga tanaman yang belum waktunya dipanen itu harus disemprot dengan air menggunakan tangki.
"Karena kalau abu yang menempel pada daun dan buah dibiarkan maka akan rusak,” kata Imron.
Tanaman yang sudah berbuah itu harus disemprot air bersih. Apalagi tanaman cabai dan tomat itu waktunya diobat.
“Harus dibersihkan dulu abu yang menempel baru di semprot dengan obat. Tanaman cabai dan tomat ini masih berumur 45 hari, sedangkan buah cabai baru bisa dipanen kalau sudah berumur 90 harian,” katanya.
Lain dengan yang dialami Yuliani, 45, warga Dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, ia mengaku akibat erupsi Semeru seluruh tanaman cabainya hilang diterjang lahar dingin.
“Puluhan ribu tanaman cabai yang ada di lahan pertaniannya hilang semua diterjang lahar dingin saat terjadi erupsi,” kata Yuliani.
Pantauan Jawa Pos Radar Jember, bukan hanya tanaman cabai, padi, dan tomat, pohon salak milik warga di dua dusun di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Lumajang, juga mati diterjang lahar dingin saat terjadi erupsi Gunung Semeru. (jum/c2/nur)
Editor : Imron Hidayatullahh