radarjember.id — Proyek rehabilitasi Alun-Alun Lumajang sudah berjalan. Pelaku UMKM disekitar sirip tetap berjualan meski sebagian ada yang pilih cari lokasi lain untuk mencari pusat keramaian. Sebab, sebagian ada yang mengaku jika pendapatannya menurun.
Wulandari salah satu pedagang di Sirip Abu Bakar mengandalkan keramaian alun-alun sebagai sumber rezekinya.
Namun, sejak kawasan itu mulai direnovasi, jumlah pengunjung berkurang drastis.
“Biasanya ramai kalau sore, sekarang sepi sekali. Orang-orang jarang lewat sini karena kawasan Alun-alun ditutup sebagian” ucap saat dikonfirmasi, kemarin.
Menurutnya, pendapatannya kini turun drastis.
Jika sebelumnya bisa membawa pulang sekitar Rp 150 ribu per hari, kini sering kali hanya mendapat Rp 30 ribu hingga Rp50 ribu saja.
“Kadang malah nggak balik modal. Tapi saya tetap jualan, siapa tahu ada yang beli,” tambahnya.
Dia menambahkan selama proyek berlangsung, banyak pedagang kecil yang memilih berhenti sementara atau pindah ke lokasi lain.
Mereka mencari pusat keramain lainnya untuk alterantif berjualan.
Adelia, pedagang lainnya juga memilih membuka lapak di Pusat Jajan Rakyat (PJR) sebagai titik lokasi keramaian kedua.
Namun, penjualannya di lokasi utama tepat dikawasan sirip Alun-alun tak mengganggu pendapatannya artinya tetap normal seperti biasanya.
Dia mengandalkan sosmed untuk mengaget banyak pembeli.
Sehingga omzetnya tetap aman dan stabil.
Hanya saja, saat car free day (CFD) kemarin sempat mengalami penurunan pendapatan.
“Selama rehabilitasi pendapatan aman. Karena kita tetap share info lewat sosmed, jadi konsumen tetap tahu kalau kita open booth setiap hari. Cuma cfd kemarin turun 20 persen, mungkin karena dikira tidak ada CFD,” pungkasnya. (dea/fid)
Editor : Adeapryanis