radarjember.id - Di tengah cuaca yang tak menentu dan tantangan musim tanam, membuat tembakau rajangan asal Lumajang tetap eksis di pasar tembakau nasional, khususnya segmen premium.
Dua jenis andalan tembakau adalah kasturi dan white burley.
Keduanya tetap menjadi incaran pabrikan rokok besar karena kualitasnya yang khas.
Meskipun musim tanam tahun ini diwarnai fenomena kemarau basah yang membuat sebagian tanaman harus mampu bertahan demi menjaga mutu.
Hal ini terbukti dari harga jual yang tetap stabil, untuk kategori top grade, tembakau kasturi masih dihargai hingga Rp 60 ribu per kilogram, sementara white burley mencapai Rp 57 ribu per kilogram.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Lumajang, Dwi Wahyono, menjelaskan tantangan utama musim ini adalah kehilangan unsur hara karena pemupukan kurang maksimal.
"Kalau masa tanam sering hujan, otomatis pupuk ikut hanyut, dan ini berpengaruh pada hasil tanaman. Akibatnya grade tembakau bisa turun," ucapnya.
Meski demikian, daya tarik tembakau Lumajang tetap eksis.
Aroma yang khas, warna rajangan cerah, dan kadar nikotin yang seimbang membuatnya tetap diminati pabrikan, terutama untuk produksi rokok kelas atas.
Hal ini didasarkan pada penjagaan kualitas rajangan, sehingga petani bisa meraih harga tinggi.
Daya saing tembakau Lumajang tidak hanya terletak pada cita rasa, tetapi karakter tanah dan kondisi mikroklimat lokal yang sulit ditiru daerah lain.
“Permintaan pabrikan masih kuat. Selama kualitasnya sesuai standar, tembakau Lumajang selalu jadi pilihan utama," pungkasnya. (dea/fid)
Editor : Adeapryanis