radarjember.id - Menyambut musim tanam tebu, kali ini petani tebu kebingungan.
Terutama petani tebu yang mengandalkan biaya tanam dari hasil pinjaman bank.
Sebab, sampai saat ini gula petani yang disimpan di gudang PG Jatiroto informasinya masih belum laku.
Plt Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) PG Jatiroto Lumajang Edy Sudarsono menjelaskan, akibat lambatnya serapan gula petani membuat mereka harus menanggung bunga pinjaman bank yang terus berjalan karena telah memasuki jatuh tempo.
“Jadi, selama penyerapan oleh pemerintah melalui Danantara belum terealisasi petani selama dua bulan belum menerima DO (delivery order, Red) yang cair dan terus menanggung biaya bunga bank. Ini juga berdampak untuk biaya perawatan tanam berkelanjutan dan kredit komersil yang sudah melebihi jatuh tempo,” katanya.
Di samping itu, Manager Keuangan dan Umum PT SGN PG Jatiroto Lumajang Apit Eko Prihantono menjelaskan, sejak akhir bulan Juni 2025 lalu, gula petani banyak yang tidak laku.
Diduga hal itu akibat kebijakan impor yang membuat penyerapan gula menjadi terhambat.
“Inikan notabenenya, gula rafinasi hanya ada di pasar industri makanan dan minuman tetapi bocor ke konsumsi masyarakat. Nah ini membuat gula di petani tidak laku dan penyerapan jadi terhambat. Gula petani yang belum laku sekitar 9.000 ton," katanya.
Menurutnya, dampak gula petani yang tidak laku tersebut juga berimbas terhadap gudang penyimpanan di PG Jatiroto.
Saat ini, gudang yang memiliki kapasaitas 59.500 ton telah terisi 45 ribu ton, termasuk gula yang berasal dari petani.
"Menurut info yang kami terima Danantara juga menunjuk ID food dan SGN untuk menyerap gula petani. Untuk ID food menyerap sejumlah 5.500, sedangkan SGN masih 1.000 ton. Tapi ini gulanya masih di gudang," pungkasnya. (son/fid)
Editor : Adeapryanis