radarjember.id - Sama seperti kabupaten atau kota lainnya, di Lumajang juga terdapat aksi solidaritas terhadap meninggalnya Affan Kurniawan di mapolres Lumajang, Minggu (30/08) malam.
Aksi yang diungkapkan dengan menyalakan seribu lilin tersebut juga akhirnya berakhir ricuh.
Mulanya, aksi yang digelar oleh aliansi masyarakat tertindas menyampaikan orasi belangsungkawa terhadap kematian driver ojol, Affan.
Bahkan, massa yang diperkirakan mencapai seribu orang mengenakan baju hitam serta beberapa perwakilan ojol Lumajang juga sempat melaksanakan salat gaib.
Namun, di akhir aksi, sejumlah kelompok massa aksi menyalakan flare hingga disusul teriakan makian ke aparat serta saling lempar botol minuman bekas.
Peristiwa itu memancing kericuhan tak terelakkan. “Itu kami pastikan bukan dari kami,” kata Nibras koordinator lapangan aksi.
Menurutnya, aksi damai yang digelar itu ditujukan sebagai bentuk refleksi terhadap kematian driver ojol karena dilindas mobil rantis saat aksi di Jakarta.
Harapannya, penyampaian aspirasi di Lumajang yang diklaim damai mulanya dapat menjadi contoh untuk daerah lain.
“Jumlah kami sekitar 60 sampai 100 orang, karena kami sebelum ke mapolres telah melakukan konsolidasi terlebih dahulu. Kemudian kami memakai pita putih di lengan. Yang memicu ricuh itu bukan bagian dari aliansi, entah siapa yang mengoordinasikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kapolres Lumajang AKBP Alex Sandy Siregar menjelaskan, kericuhan itu disebabkan oleh sejumlah oknum penyusup selain massa aksi.
Setidaknya ada empat orang yang dicurigai telah diamankan di mapolres Lumajang untuk menjalani penyelidikan.
“Tadi aksinya damai, saat mau membubarkan diri ada penyusup yang memicu dengan lemparan botol, saya yakin itu penyusup. Empat orang kita amankan, kita akan lakukan pendalaman secara prosedural dan profesional,” pungkasnya. (son/fid)
Editor : Adeapryanis