Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Miris! Sopir Ambulans Desa di Jember Tak Digaji 7 Bulan, Kerja Serabutan dan Kini Terjerat Tunggakan KPR

Sidkin • Rabu, 27 Agustus 2025 | 14:00 WIB

 

MENGABDI: Leo Arta Pranata, sopir ambulans desa Desa/Kecamatan Arjasa memeriksa mobil ambulans, kemarin.
MENGABDI: Leo Arta Pranata, sopir ambulans desa Desa/Kecamatan Arjasa memeriksa mobil ambulans, kemarin.

Radar Jember - Pria berpakaian muslim putih dengan celana hitam itu keluar dari ruang kelas SDN 02 Candijati, Arjasa, kemarin.

Dia menyalami awak media dan mengajak duduk di bawah rindang pohon sekolah.

Meski tersenyum ramah, wajah sayunya tak bisa disembunyikan.

"Harus cari tambahan di luar. Kerja serabutan," ujarnya.

Kalimat itu terucap pertama kali.

Dia memutar otak agar kebutuhan sehari-hari keluarganya tercukupi.

Sebab, selama tujuh bulan terakhir, dia belum menerima gaji dari pekerjaannya sebagai sopir ambulans desa.

Leo menjadi sopir ambulans sejak Januari 2022.

Setelah bekerja lebih dari dua tahun, dia mencoba peruntungan dengan mendaftar CPNS pada 2024 lalu.

Namun, dia gagal.

Sementara saat itu, aturan melarang seseorang yang telah mendaftar CPNS untuk mendaftar PPPK.

Alhasil, saat regulasi baru menghapus pegawai honorer, namanya masuk.

Nasib dirinya bersama 55 sopir ambulans desa lain pun digantung.

Mereka masih bekerja sejak Januari.

Namun tidak digaji hingga Juli.

"Unit ambulans desa tak ditarik, karena itu kami mikirnya masih dipekerjakan. Tapi ternyata kami tidak digaji," kata pria asal Desa/Kecamatan Arjasa tersebut.

Selama tiga bulan awal dia masih bisa bertahan.

Namun, menjelang akhir puasa, perasaannya makin tak karuan.

Momen Lebaran yang biasanya dimanfaatkan dengan berkumpul bersama keluarga besar pun tidak bisa ia lakukan.

"Kalau mengingat momen Lebaran, rasanya ingin menangis. Yang lain bisa merayakan dengan mudik, saya tidak bisa," ungkapnya.

Saat Lebaran itu, hatinya gamang.

Dirinya tak memegang uang.

Keluarga istrinya meminta dia sekeluarga untuk mudik ke Probolinggo.

Tapi, hal itu urung dilakukan.

Uang hasil kerja serabutan terpaksa diputar untuk memenuhi kebutuhan.

Ayah tiga anak itu menceritakan, ujian tak berhenti saat Lebaran saja.

Ketika libur sekolah, dia juga dihadapkan pada tahun ajaran baru.

Anak pertamanya yang berusia delapan tahun sudah memasuki kelas dua.

Kebutuhan sekolah pun bertambah.

"Anak kedua berusia empat tahun. Sementara anak terakhir berusia setahun. Bayangkan, kebutuhan makin banyak untuk susu, popok, dan lainnya. Berat. Akhirnya kerjaan apa pun diterima," jelasnya.

Memang, sejak tak digaji, dia bekerja serabutan.

Saat tak bertugas mengemudi ambulans, dia menjadi sopir panggilan.

Paling sering mengantarkan anak tetangga ke sekolah atau mengantar katering milik tetangganya.

Meski upah tak seberapa, dia tetap menikmatinya.

Itu menjadi tambahan agar dapur tetap mengepul.

Sembari terus berikhtiar gajinya selama tujuh bulan itu bisa dicairkan.

"Kami di Forum 56 Sopir Ambulans Desa tetap memperjuangkan itu. Kami berharap, itu bisa dibayarkan," imbuhnya.

Hingga kini, pria 35 tahun itu masih tetap mengabdi sebagai driver ambulans.

Baginya, itu adalah panggilan hati.

Setiap telepon berdering, dia segera siap siaga mengantarkan warga yang membutuhkan.

Semua ia lakukan tanpa pamrih, meski di rumah ada istri dan tiga anak yang menanti dengan kebutuhan sehari-hari yang kian menghimpit.

Dia mengaku, bulan ini sudah menandatangani kontrak dengan Puskesmas Arjasa, tempatnya mengabdi.

Meski honor yang diterima tak seberapa, dia tak butuh waktu panjang untuk mempertimbangkannya.

"Saat ada kontrak hingga akhir tahun, langsung tanda tangan. Karena ini juga untuk tambahan agar bisa membayar tunggakan KPR. Sudah tiga bulan, cicilan rumah belum terbayar," pungkasnya. (nur)

 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #sopir #PPPK #ambulans desa #CPNS 2024