Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Dulu Sepi, Kini Ramai! Trotoar Garahan Jadi Tongkrongan Malam dengan Kopi Khas Silo dan Harga Merakyat

Jumai RJ • Jumat, 15 Agustus 2025 | 13:15 WIB
BIKIN BETAH: Trotoar Lapangan Desa Garahan, Kecamatan Silo, menjadi tempat tongkrongan baru setelah trotoarnya di renovasi hingga menjadi tempat lesehan.
BIKIN BETAH: Trotoar Lapangan Desa Garahan, Kecamatan Silo, menjadi tempat tongkrongan baru setelah trotoarnya di renovasi hingga menjadi tempat lesehan.

Radar Jember - Ketika hendak memasuki kawasan Gunung Gumitir, ada sebuah lapangan yang biasa digunakan untuk menjemur kopi.

Kini, di tempat itu ada pemandangan yang berbeda, yaitu sebuah tempat nongkrong yang asyik.

Kini di sekitar lapangan Desa Garahan, Kecamatan Silo tak, seperti beberapa bulan sebelumnya.

Trotoar di sekitar lapangan disulap menjadi tempat yang mengasyikkan dan membuat banyak anak muda nongkrong di tempat ini.

Di sekitar lapangan ini, setelah direnovasi, di trotoar dijadikan sebagai tempat warung lesehan.

Suasananya cukup nyaman, apalagi ini jauh dari kota, sehingga menjadi jujukan bagi sebagian orang.

Trotoar di lokasi itu memiliki panjang sekitar 125 meter, dengan lebar 5 meter.

Tentu saja, itu cukup luas, sehingga dijadikan tempat nongkrong.

Banyak orang, yang memanfaatkannya.

Baik pedagang yang jualan, maupun orang yang ngopi atau sekadar nongkrong.

Sajian terjangkau dari penjual kopi, nasi bungkus, dan makanan ringan lainnya, semakin melengkapi kawasan ini.

Bahkan, sejak pagi hingga sore sudah banyak orang.

Sementara, semakin malam cuaca semakin dingin karena lokasinya dekat dengan wilayah Gumitir.

Nongkrong di lokasi ini, serta meneguk minuman hangat, kopi, the, susu, atau lainnya, memberi sensasi tersendiri yang tiada duanya.

Sejumlah pedagang yang jualan mayoritas menggunakan gerobak.

Di lokasi juga ada penjual kopi keliling (koling) dengan sepeda motor, sekaligus menjual mi.

Area parkir cukup luas, berikut parkir mobil di pinggir jalan nasional.

Di sepanjang trotoar ini, lampu penerangan juga sudah mendukung.

Sejumlah pohon menghiasinyanya pasca-direnovasi.

Nongkrong lesehan di tempat ini pun bisa betah, sekali pun hanya menikmati secangkir kopi.

Bahkan, kini banyak penjual gorengan, sosis, serta makanan ringan lain yang bisa dipilih.

Lampu di lapak lesehan itu pun tak begitu menyilaukan mata.

Semakin malam, waktu kadang berjalan tanpa terasa.

Ini saking asyiknya nongkrong.

Di lokasi, menu yang dijual pedagang juga mirip-mirip, bahkan banyak yang sama.

Namun, ini tak membuat pedagang yang satu dengan yang lain bersinggungan.

Menu jahe hangat, kacang hijau, dan amsle juga bisa ditemukan.

Selain itu, tak harus merogoh saku dalam-dalam karena harganya lebih murah dibandingkan dengan di pusat kota Jember.

Contohnya, ada nasi bungkus (nasbung) yang harganya super merakyat, hanya Rp 5 ribu.

Harga ini sepertinya sulit ditemukan di Kecamatan Kaliwates, Patrang, dan Sumbersari, bahkan di kecamatan lain.

Setiap malamnya, pedagang biasanya bertahan hingga pukul 23.00 bahkan bisa lebih.

Sebab, banyak orang yang betah nongkrong di kawasan ini.

Namun demikian, pada jam malam atau lebih dari pukul 21.00, biasanya sudah tak ada anak-abak.

Tersisa orang-orang dewasa.

Hal ini yang membuat kawasan itu kini cukup ramai alias jarang sepi.

Warga yang datang ke lokasi bukan hanya pemuda atau warga sekitar.

Mereka yang rumahnya cukup jauh juga banyak yang datang.

Seperti Baharianto, 51, warga asal Desa Kemuning Lor , Kecamatan Panti.

Dia sengaja datang dari Panti untuk ngopi si kawasan ini.

Dia datang bersama beberapa temannya dan sempat memfoto serta memvideo.

“Nyaman sekali. Apalagi menikmati kopi khas Silo saat malam hari, mantap,” katanya.

Nah, saat Jalur Gumitir nantinya dibuka, bisa jadi akan banyak orang luar kota yang singgah untuk mampir ngopi atau sekadar bersantai.

Salah pedagang kopi, Rocky Firmansyah, 23, alah Desa Garahan, menyebut, dirinya berjualan kopi setelah Jalur Gumitir ditutup.

Dia berjualan pada malam hari bersama temannya di trotoar lapangan itu.

“Awalnya di trotoar ada monumen KHR As’ad Syamsul Arifin yang juga direnovasi. Alhamdulillah, setiap malam selalu ramai yang datang,” katanya.

Banyaknya orang yang singgah itulah yang membuat sejumlah pedagang mampu bertahan, bahkan banyak pedagang baru. 

Kini, trotoar yang cukup luas itu menjadi saksi bisu perputaran ekonomi di kawasan setempat. (jum/c2/nur) 

Editor : Imron Hidayatullahh
#Jember #Garahan #Jalur Gumitir #kopi keliling #tempat nongkrong #kecamatan silo