radarjember.id - Serangan hama tikus di sejumlah daerah jadi atensi serius.
Beberapa wilayah di Lumajang seperti di Kecamatan Pasrujambe jadi wilayah terdampak paling parah.
Karena, bahan pengendalian organisme penganggu tumbuhan (OPT) masih minim. Sehingga 80 persen sawah terancam gagal panen.
Ketua Poktan Harapan 1 Desa Karanganon Kecamatan Pasrujambe Yulianto menjelaskan, setiap dua minggu pihaknya selalu meminta 5 kilogram bahan OPT ke dinas terkait untuk pengendalian hama.
Bahan sebanyak itu bisa digunakan kurang lebih untuk 110 hektar. Namun, masih dinilai sangat kurang.
Penyebabnya, karena populasi tikus berkembang biak dengan cepat.
Sehingga bahan yang dibutuhkan jadi lebih banyak. Akibatnya, pengendalian hama kurang maksimal.
“Sebetulnya bahan sebanyak itu masih kurang. Tapi ya gimana, sedangkan luasan lahan sawahnya di daerah sini sangat banyak. Akhirnya, kita memaksimalkan yang ada,” ucapnya.
Akibatnya, hampir 80 persen sawah di Desa itu terancam gagal panen.
Pengendalian yang kurang tuntas, keterbatasan bahan OPT serta akses lalu lintas ke sawah jadi kendala.
Besar harapan agar ada tambahan bahan pengendalian, dan sarana infrastruktur yang memadai bisa diperbaiki agar hama tikus bisa dimusnahkan.
Sehingga sektor pertanian di Lumajang pulih, termasuk produktivitas padi bisa kembali normal.
“Selain pengendalian hama serentak, bahan yang digunakan harus tercukupi.
Maka upaya pengurangan hama tikus bisa dimaksimalkan,” pungkas Ketua HKTI Lumajang Iskak Subagyo. (dea/fid)
Editor : Adeapryanis