Akibatnya tanaman padi yang sudah ditanam sejak beberapa bulan lalu banyak yang rusak. Hal ini berimbas pada produktivitas padi yang menurun hingga 30 persen. Petani tidak bisa menikmati hasil panen dengan maksimal. Mereka harus legawa berbagi dengan hama tikus.
Tak ada pilihan selain menerima sisa hasil panen yang didapat. Mereka memilih membiarkan lahan sawahnya digerogoti tikus karena akses untuk menuju lokasi terputus. Bahkan menyebrangi sungai pun tak memungkinkan karena membahayakan, sebab aliran airnya deras.
“Normalnya sawah itu dipantau setiap hari apalagi jika sudah ditanami padi, atau paling lama setiap pekan sekali. Kalau ada indikasi hama bisa langsung dibasmi. Sehingga petani bisa mengantisipasi kerugian. Tapi kalau kondisinya begini, mereka hanya mengecek saat masa tanamnya saja,” ucap Ketua HKTI Lumajang Ishkak Subagyo.
Mereka memilih membiarkan padinya digerogoti tikus karena jarak untuk ke lokasi sejak jembatan terputus semakin jauh. Jarak tempuhnya bisa sampai 1,5 kilometer denga melewati Dusun Sembon, Desa Karanganom, Lumajang.
Kondisi ini sudah terjadi sejak 2 tahun lamanya, petani hanya bisa mendapatkan hasil yang mepet dari hasil tanaman padinya. “Itungannya hasil panen yang didapat mepet, belum lagi biaya olah lahan dan pasca panen naik,” pungkasnya. (dea/fid)
Editor : Hafid Radar Jember