radarjember.id - Populasi hama tikus akhir-akhir ini meningkat dua kali lipat. Penyebabnya, musuh alami tikus banyak diburu dan pola kawin tikus semakin cepat hingga memperbanyak perkembangbiakan. Banyak padi milik petani yang gagal panen dan merugi berlipat-lipat.
Ketua Paguyuban Petani Pangan Nasional (P3N) Provinsi Jawa Timur Iskhak Subagio menjelaskan, saat ini banyak organisme pengganggu tanaman (OPT) yang mulai muncul, salah satunya populasi hama tikus muncul hingga dua kali lipat. Kondisi ini menyerang seluruh sawah di semua Kecamatan.
Penyebabnya, musim panen yang tidak serentak membuat padi atau makanan tikus selalu tersedia. Ditambah, proses pola kawin sangat cepat dan ekosistem alam yang kurang terjaga. Apalagi, musuh alami tikus banyak diburu. Sehingga terjadi ketimpangan yang berdampak pada hasil produktivitas padi.
“Hampir semua kecamatan terjadi peningkatan populasi tikus. Baik itu Sumbersuko, Pasrujambe, Senduro dan kecamatan lainnya. Maka perlu penanganan yang serius agar padi petani bisa diselamatkan,” ucapnya
Dampak serangan tikus ini membuat petani merugi. Sebab, potensi gagal panen cukup tinggi, luas tambah tanamannya juga naik karena mereka harus tanam dua kali. Salah satu langkah untuk menekan serangan hama tikus dengan gropyokan atau gerakan pengendalian (gerdal) tikus.
Caranya harus dilakukan serentak, agar hasil pengendalian hama bisa maksimal. Tapi, sejauh ini masih ada petani yang cenderung individual dalam melakukan pengendalian. Sehingga, penanganan hama dianggap sangat lambat.
“Kuncinya harus gerdal tikus serempak, hamanya cepat habis. Kalau nggak bareng ya tetap aka penangannya lama,” pungkasnya. (dea/fid)
Editor : Adeapryanis