RadarJember – Kembali menghebohkan masyarakat Lumajang dan sekitarnya, aktivitas vulkanik Gunung Semeru kembali meningkat. Pada Rabu (12/3/2025) pukul 22.32 WIB, gunung tertinggi di Pulau Jawa Timur kembali mengalami erupsi.
Dalam kurun waktu satu minggu terakhir, tercatat sebanyak 54 kali letusan, menandakan peningkatan aktivitas yang perlu diwaspadai.
Berdasarkan hasil laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui aplikasi MAGMA Indonesia, kolom abu terpantau mencapai ketinggian 900 meter dari puncak kawah.
Abu vulkanik berwarna kelabu dengan intensitas sedang terlihat bergerak ke arah utara. Meskipun visual letusan tidak sepenuhnya teramati, alat seismograf mencatat amplitudo maksimum 22 milimeter dengan durasi gempa 100 detik.
MAGMA Indonesia dalam laporannya menyebutkan bahwa status Gunung Semeru masih berada di Level II atau Waspada.
Data pemantauan pada 12 Maret 2025 mencatat adanya 71 kali gempa letusan dengan amplitudo antara 10 hingga 23 milimeter serta durasi antara 47 hingga 175 detik. Selain itu, juga terjadi tujuh kali gempa hembusan serta dua kali gempa harmonik dengan durasi yang mencapai 303 detik.
PVMBG mengimbau agar masyarakat tidak beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan dalam radius 8 kilometer dari puncak. Di luar radius tersebut, warga juga diminta untuk menghindari aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan, guna mengantisipasi potensi awan panas serta aliran lahar yang dapat meluas hingga 13 kilometer dari puncak gunung.
Erupsi susulan juga tercatat pada Kamis pagi (13/3/2025) dalam rentang waktu pukul 05.40 WIB hingga 06.56 WIB, di mana terjadi empat kali letusan berturut-turut. Seismograf di Pos Pengamatan Gunung Api Semeru mencatat amplitudo letusan sebesar 22 milimeter dengan durasi 155 detik.
“Gunung Semeru mengalami erupsi dengan tinggi kolom abu mencapai 1.000 meter, status masih waspada,” ujar Mukdas Sofian, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, dalam laporan tertulis yang diterima media pada Kamis (13/3/2025).
Mukdas menegaskan bahwa masyarakat yang berada di sekitar gunung harus tetap berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas dalam radius 8 kilometer dari puncak.
Selain itu, ia juga meminta warga untuk selalu waspada terhadap potensi awan panas serta aliran lahar yang dapat mengalir melalui sungai-sungai di sekitar gunung.
“Kami mengimbau agar tidak melakukan aktivitas sejauh 8 kilometer dari puncak Gunung Semeru,” tegasnya.
Gunung Semeru menjadi gunung api dengan aktivitas letusan tertinggi di Indonesia sepanjang tahun 2025. Data dari MAGMA Indonesia mencatat bahwa dari total 2.120 letusan gunung api di seluruh Indonesia, sebanyak 995 kali letusan terjadi di Gunung Semeru.
Hal ini menunjukkan bahwa aktivitas vulkanik gunung ini masih terus berlangsung dan berpotensi menimbulkan dampak bagi masyarakat di sekitarnya.
Masyarakat yang berada di kawasan sekitar Gunung Semeru diimbau untuk terus mengikuti perkembangan informasi dari PVMBG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain itu, warga disarankan untuk selalu menyiapkan masker guna melindungi diri dari dampak abu vulkanik yang dapat berpengaruh terhadap kesehatan.
Dengan meningkatnya aktivitas Gunung Semeru, kesiapsiagaan dan langkah mitigasi bencana menjadi hal yang sangat penting untuk selalu diperhatikan dan dipantau guna mengantisipasi dampak yang lebih luas akibat erupsi yang terjadi.
Editor : M. Ainul Budi