radarjember.id - Alih fungsi lahan pertanian semakin meluas. Kawasan perkotaan yang semakin maju justru menjadi potensi ancaman bagi bidang pertanian semakin besar. Sebab, tidak sedikit lahan sawah produktif yang telah beralih fungsi menjadi bangunan. Jumlahnya mencapai ratusan hektare.
Berdasar data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang, luas baku sawah yang tercatat 2019 lalu jumlahnya mencapai 34.597 hektare. Sedangkan sampai dengan awal 2025 luasan lahan itu menyusut menjadi 34.052 hektare. Praktis, ada penyusutan lahan hingga 545 hektare.Baca Juga: Siap Hadapi Bhayangkara FC di Tuban Sport Center, Persela Optimis Tak Ingin Kehilangan Tiga Poin Lagi
Kabid Tanaman Pangan DKPP Lumajang M Arif Budiman menjelaskan, munculnya penyusutan lahan yang sudah beralih fungsi menjadi bangunan itu terjadi sejak lima tahun terakhir. Total luasan lahan yang sudah diketahui beralih fungsi itu saat ini masih dipetakan untuk diketahui titiknya.
“Memang ada penyusutan lahan dengan perubahan status dari sawah menjadi non-sawah, kisarannya 500 hektare. Itu terjadi selama lima tahun terakhir sejak 2019. Perubahan-perubahan itu ada jadi perumahan, jadi kebun dan sebagainya, ini masih belum koordinasi untuk petaknya yang mana saja,” terangnya.
Sejumlah sawah yang mengalami alih fungsi dipastikan tidak termasuk bagian dari lahan pertanian pangan berkelanjutan (LP2B). Luasan LP2B Lumajang saat ini masih tercatat mencapai 32 hektare dan sangat dilarang untuk dialihfungsikan.
“Ini biasanya lahan yang beralih fungsi itu tentunya tidak masuk LP2B, jadi masih boleh karena tidak masuk dalam petak yang dilindungi. Untuk faktor penyebab alih fungsi biasanya karena lahan sawah tertentu berdekatan dengan jalan raya. Umumnya begitu, dan harus ada izin mendirikan bangunan,” tambahnya.
Keseluruhan lahan yang masuk dalam LP2B saat ini semuanya dipastikan sudah tergarap dan digunakan untuk kebutuhan penanaman bahan pangan. Total produksi rata-rata padi setiap tahun diperkirakan mencapai 56 sampai 62 kwintal setiap hektarenya.
“Sedangkan untuk perhitungan produksi padi selama tahun 2024 itu jumlahnya mencapai 4.367.639 kwintal. Ini nantinya masih bakal berubah tergantung dengan perawatannya dan potensi masing-masing daerah setiap tahunnya,” pungkasnya. (has/son/fid)
Editor : Adeapryanis