radarjember.id - Ubi jalar asal Lumajang rupanya mampu menembus pasar internasional. Bahkan tidak sedikit negara di Asia yang menjalin kerjasama dengan petani lokal agar bisa mendapatkan pasokan ubi jalar.
Salah satu petani lokal Lumajang yang berhasil melakukan ekspor ubi jalar adalah Mochammad Maulana Malik Ibrahim. Warga Desa/Kecamatan Tekung itu berhasil menjual hasil panen ubi jalarnya ke negara Singapura, China, dan Thailand.
Sejak lima tahun terakhir Maulana menggeluti pekerjaan sebagai petani ubi jalar. Jatuh dalam kegagalan juga pernah dirasakannya saat proses tanam, sehingga membuatnya harus menelan kerugian.
Kegagalan mulai berganti menjadi peluang, petani dari generasi milenial itu cukup beruntung di tahun ketiganya, memasuki awal 2022 lalu ekspor mulai bisa dilakukannya. Seiring waktu jumlah permintaan terus meningkat.
Saat ini, permintaan ubi jalar yang diekspor ke tiga negara bisa mencapai 40 ton dalam seminggu. Jumlah itu membuatnya bisa menghasilkan keuntungan dengan omset bersih tertinggi mencapai Rp 100 juta setiap bulan.
"Sekali kirim kadang bisa 20 ton sehari, itu saya kirim dua kali seminggu, masing-masing jadinya 40 ton kalau dua kali dalam seminggu. Omset bersih yang bisa didapat sekitar Rp 100 juta setiap bulan," katanya.
Agar bisa diekspor, setelah dipanen ubi jalar harus melalui tahap penyortiran kualitas terlebih dahulu. Kondisi buah harus dipastikan baik tanpa cacat sesuai dengan permintaan konsumen. Proses panjang yang ketat itu akan mempengaruhi harga jual, sehingga akan lebih mahal ketimbang ubi jalar di pasaran.
"Kalau dijual di pasar lokal walaupun nggak dicuci biasanya tidak masalah. Tapi kalau di jual di pasar harganya cuma Rp 800 sampai 1.000 rupiah saja perkilo. Sedangkan kalau ekspor bisa Rp 5 sampai 6 ribu perkilo. Kalau seminggu bisa ngirim 4 ton," pungkasnya. (has/son/fid)
Editor : Adeapryanis