radarjember.id - Aktivitas vulkanis Gunung Semeru hingga saat ini masih fluktuatif. Erupsi juga dilaporkan terus-terusan terjadi dengan jarak luncur yang bervariasi setiap harinya. Meski mengalami penurunan level dari level III (siaga) menjadi level II (waspada), potensi bencana masih perlu diwaspadai.
Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru pada periode pengamatan, Rabu (4/12), Gunung Semeru tercatat memuntahkan erupsi sebanyak 10 kali. Aktivitas erupsi itu terjadi sejak pukul 00.00 WIB hingga 13.23 WIB dengan ketinggian maksimal mencapai 900 meter.
Petugas PPGA Semeru di Gunung Sawur Liswanto menyampaikan, erupsi dengan jarak luncur tertinggi mencapai 900 meter di atas puncak terjadi pada pukul 05.46 WIB. Kolom abu dilaporkan berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang menuju arah barat daya.
“Terjadi erupsi pada pukul 05.46 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 900 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya,” katanya dalam keterangan tertulis di Lumajang.
Sementara itu Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi mengatakan, aktivitas erupsi yang terjadi masih dalam kategori normal bagi gunung api aktif seperti Semeru. Tidak ada laporan dampak dari masyarakat yang diterima akibat erupsi.
Jarak aktivitas juga direkomendasikan untuk tidak dilakukan sejauh 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Besuk Kobokan. Sebab, perluasan awan panas dan aliran lahar berpotensi terjadi hingga jarak 13 kilometer dari puncak.
“Itu erupsinya masih dalam batas normal, begitu juga aktivitas masyarakat tidak menerima dampak, tidak ada laporan dampak yang diterima. Masyarakat yang beraktivitas di lereng semeru agar tetap waspada dengan potensi awan panas guguran, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang,” pungkasnya (has/son/fid)
Editor : Adeapryanis