radarjember.id - Sepanjang 275 meter tanggul penahan air di Desa Gondoruso, Kecamatan Pasirian, Lumajang telah jebol disapu banjir lahar Gunung Semeru. Sejak rusak April 2024 lalu, belum adanya penanganan membuat warga merasa was-was dengan banjir yang bisa datang kapan saja.
Intensitas curah hujan dari sedang hingga tinggi yang mulai mengguyur wilayah Lumajang juga menambah kekhawatiran warga. Ketika hujan deras turun berpotensi memicu banjir lahar Gunung Semeru datang dari aliran sungai Regoyo yang sangat berdekatan dengan pemukiman.
Baca Juga: Pembangunan Dam Gambiran Lumajang Dikebut Jelang Musim Hujan
Warga Desa Gondoruso Adi Bin Slamet mengatakan, sejak tanggul rusak diterjang banjir, setidaknya sudah delapan bulan lamanya belum ada penanganan apapun dari pemerintah.
"Ini sudah jebol kena banjir April lalu, sampai sekarang belum ada penanganan, kami warga sini, khususnya Dusun Glendang Petung ketakutan dengan jebolnya tanggul ini. Kami harap paling tidak ada tanggul penahan darurat untuk penaganan sementara," ungkapnya, Selasa (26/11).
Imbas tanggul yang jebol, sedikitnya ada 20 hektare lahan pertanian yang sudah rusak disapu banjir lahar. Sehingga, jika tidak ada penanganan, kerusakan lahan pertanian di wilayah setempat diperkirakan dapat menjangkau hingga ratusan hektare lebih.
Baca Juga: Sempat Mandek, Pembangunan DAM Gambiran Kini Sudah Mencapai 15 Persen
"Kalau ada debit air yang agak besar dikit, itu pasti mengarah ke pertanian yang jumlahnya ratusan hektare di selatan tanggul jebol. Kemudian termasuk juga melanda pemukiman warga di Dusun Glendang Petung," tambahnya.
Warga lain Darmoko mengaku, ketakutan akan banjir lahar Gunung Semeru bahkan membuat warga tidak bisa tidur dengan tenang ketika hujan mulai turun. Sehingga, gangguan itu sangat mengganggu warga secara psikologis.
"Kalau ada hujan, gluduk itu, pasti khawatir tidak bisa tidur, bingung mau lari atau ngapain. Apalagi posisi sungai sudah terlihat miring ke selatan," katanya, menceritakan kekhawatirannya.
Sementara itu, Ketua RT 02 Dusun Glendang Petung Mohammad Saydah mengatakan, keluhan warga yang ketakutan tidak henti-hentinya berdatangan setiap waktu. Ketakutan dan kekhawatiran warga membuatnya menginginkan agar pembangunan tanggul juga bisa segera dilakukan.
"Ini keluhan warga tidak bisa tidur, ada yang khawatir dengan lahan, punya lahan satu-satunya untuk menghidupi anak cucunya, kalau kena banjir lagi gimana," ungkapnya. (has/fid)
Editor : Adeapryanis