radarjember.id - Selama 24 terakhir dalam periode pengamatan Gunung Semeru, Minggu (17/11), dilaporkan terjadi sebanyak 93 kali gempa letusan atau erupsi. Kemudian berdasarkan periode pengamatan, Senin (18/11), erupsi juga terjadi sebanyak empat kali dengan letusan tertinggi membentuk kolom abu sejauh 700 meter.
Erupsi pertama terjadi pada pukul 05.12 WIB dengan tinggi kolom abu 400 meter di atas puncak. Selanjutnya erupsi kembali terjadi pukul 05.15 WIB dengan tinggi kolom abu 500 meter. Kemudian erupsi tertinggi sejauh 700 meter terjadi pada pukul 05.25 WIB. Disusul setelahnya erupsi Terjadi erupsi setinggi 600 meter pada pukul 06:51 WIB.
Baca Juga: Cara Beli Tiket Kereta Api Online 2024/2025 di Access by KAI
Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi menjelaskan, hingga saat ini status Gunung Semeru masih berada di level II (waspada). Tidak ada dampak yang dilaporkan dari aktivitas erupsi.
Meski begitu, berdasarkan imbauan dari petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru, aktivitas dalam radius 13 kilometer dari puncak sangat dilarang bagi masyarakat. Mengingat juga aktivitas vulkanis Gunung Semeru masih fluktuatif.
"Terjadinya erupsi dengan ketinggian bervariasi mengharuskan kita tetap harus waspada, apalagi sekarangkan sudah memasuki musim hujan," terang Patria Dwi Hastiadi, Senin (18/11).
Intensitas curah hujan tinggi yang terjadi di kawasan Gunung Semeru belakangan ini juga patut diwaspadai. Sebab, berpotensi memicu banjir lahar Gunung Semeru yang bisa datang secara tiba-tiba.
Baca Juga: Bunda Indah-Yudha Sholawatan Bareng Masyarakat Lumajang
"Ini menjadi potensi yang harus diwaspadai, sebab apabila banjir terjadi membawa material yang menumpuk di kawah, hasil aktivitas vulkanik akan membahayakan di seluruh aliran, khusunya di sepanjang aliran Besuk Kobokan," tambahnya. (has/fid)
Editor : Adeapryanis