radarjember.id - Gunung Semeru Lumajang kembali menunjukan aktivitas erupsinya, Rabu (6/11). Selama periode pengamatan sejak pukul 00.00 WIB hingga 06.00 WIB tercatat ada delapan kali erupsi yang dimuntahkan gunung tertinggi di Jatim itu. Letusan tertinggi mencapai 700 meter di atas puncak.
Erupsi pertama dilaporkan terjadi pada pukul 00.34 WIB mencapai ketinggian 400 meter. Letusan erupsi kedua terjadi pada pukul 00.47 WIB dengan tinggi kolom abu mencapai 300 meter. Kemudian erupsi ketiga diluncurkan pada pukul 01.14 WIB setinggi 500 meter. Menyusul erupsi keempat pada pukul 01.29 WIB setinggi 300 meter.
Kemudian, letusan erupsi kelima terjadi pada pukul 05.13 WIB dengan ketinggian kolom abu 200 meter. Kembali teramati pada pukul 05.17 WIB erupsi setinggi 500 meter diluncurkan kawah Jonggring Saloko. Selanjutnya, erupsi ketujuh dengan ketinggian letusan mencapai 600 meter di atas puncak kembali dilaporkan terjadi pada pukul 05.23 WIB.
Baca Juga: UPDATE SEMERU - Waspadai Banjir Lahar pada Musim Hujan
Menurut laporan yang dibuat petugas Pos Pantau Gunung Api (PPGA) Liswanto, erupsi yang ke delapan kalinya kembali terjadi pada pukul 05.23 WIB. Ketinggian kolom abu teramati mencapai 700 meter di atas puncak.
"Terjadi erupsi pukul 05.55 WIB dengan tinggi kolom abu teramati 700 meter di atas puncak. Kolom abu teramati berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang ke arah barat daya," tulisnya dalam laporan, Rabu pagi.
Selain diimbau untuk mewaspadai potensi awan panas guguran (APG), guguran lava, masyarakat juga direkomendasikan untuk siaga dan siaga terhadap potensi terlanda luapan lahar di sepanjang aliran sungai/lembah yang berhulu di puncak Gunung Semeru.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," tambah Liswanto.
Baca Juga: UPDATE GUNUNG SEMERU - Sehari Semalam 75 Kali Gempa Letusan
Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Rehabilitasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Yudhi Cahyono mengatakan, potensi luapan aliran lahar di musim hujan seperti saat ini juga patut diwaspadai. Meski begitu, intensitasnya disebut masih dalam skala normal.
"Masih normal, masih normal untuk luapan aliran lahar di kawasan sungai yang berhulu pada sungai-sungai kecil atau anak sungai dari besuk kobokan," pungkasnya. (has/fid)
Editor : Adeapryanis