Jember Bondowoso Lumajang Pemerintahan Nasional Bola Internasional Bola Indonesia Update Laka Lantas Rekomendasi Infotainment Balbalan Tapal Kuda Oto dan Tekno MotoGP

Kesal Akibat Hasil Panen Cabai Tak Sebanding Ongkos Tanam, Petani di Lumajang Ini Membabat Tanamannya

Adeapryanis • Selasa, 5 November 2024 | 01:57 WIB

KESAL: Petani di Desa Sukosari, Kecamatan Kunir membabat habis lahan cabai rawit merah seluas setengah hektare yang sudah berusia 60 hari karena harganya anjlok. (MUHAMMAD HASBI/RAME )
KESAL: Petani di Desa Sukosari, Kecamatan Kunir membabat habis lahan cabai rawit merah seluas setengah hektare yang sudah berusia 60 hari karena harganya anjlok. (MUHAMMAD HASBI/RAME )
radarjember.id-Jelang tutup kalender 2024 harga cabai rawit merah di Lumajang anjlok sangat jauh. Musim panen yang sudah berlangsung tidak membuat petani sumringah. Itu karena setiap satu kilogram cabai rawit merah yang dihasilkan hanya dihargai senilai Rp 3.000.

Normalnya cabai rawit merah yang dijual petani baru bisa memberi keuntungan ketika harganya dibandrol senilai Rp 10.000 hingga 15.000 setiap satu kilogram. Ketika harga anjlok hingga 3 ribu perkilogram secara otomatis petani justru merugi. Sebab, upah seorang kuli petik dalam satu harinya saja mencapai Rp 70.000.

Baca Juga: Deflasi Sudah Terjadi, Tapi Solusi Masih Dikaji

Imbas anjloknya harga cabai salah satunya sudah dirasakan petani di Desa Sukosari, Kecamatan Kunir. Tidak sedikit dari mereka hanya bisa berpasrah diri, ada juga yang frustasi hingga membabat habis lahan cabai layaknya rumput ilalang.

Wahid Adi Putra Yulianto menjadi salah satu petani cabai rawit di Desa Sukosari, Kunir yang sudah sangat putus asa. Lahan cabai miliknya yang mencapai setengah hektare bahkan sudah dibabat habis.

"Musim panen cabai di periode 2024 ini anjlok paling parah sampai Rp 3 ribu perkilo, ini terpaksa saya babat habis lahannya daripada merugi," ungkapnya kesal sembari membabat habis lahannya, Sabtu (2/11) kemarin.

Rencananya Wahid akan mengalihkan fungsi lahannya untuk ditanami bawang merah agar tidak semakin merugi. Padahal sebelumnya lahan cabai rawit merah miliknya itu sudah berusia 60 hari lebih dan sudah mau memasuki panen ketiga kalinya di 2024.

Baca Juga: Menyikapi Pegawai Non-ASN Gagal Seleksi CPNS dan PPPK, Pemkab Lumajang Pastikan Tenaga Honorer Tetap Diakui

Ketika harga normal, dalam satu petak lahan yang ditanami cabai rawit merah, keuntungan yang bisa didapatkan mencapai Rp 2 juta dalam sekali panen. Berbanding jauh dengan kondisi saat ini yang hanya bisa menghasilkan Rp 300.000 untuk setiap petaknya.

"Itu perbandingan dengan ongkos produksi tidak imbang, kulinya saja setengah hari 35 ribu, harga cabainya cuma 3 ribu. Biasanya bisa 2 juta dalam satu petak sekarang cuma 300 ribu. Jadi daripada lebih rugi ini mau saya alihkan tanam bawang merah," tambah Wahid.

Salah satu buruh petik cabai di Desa Sukosari Nanik mengatakan, imbas anjloknya harga cabai rawit merah membuat ongkos kuli petik ikut turun jauh. Sehingga, permasalahan itu dirasa sangat memberatkan.

"Biasanya sehari bisa 60 sampai 70 ribu bayarannya, sekarang cuma 35 ribu sehari, tapi ya mau bagaimana lagi, cuma mau harganya kembali normal, apalagi sekarang musim panen," katanya. (has/fid)

 

Editor : Adeapryanis
#cabai ancam inflasi #cabai anjlok