radarjember.id- Transisi musim dari kemarau ke hujan mulai berlangsung di Lumajang. Kondisi itu membuat potensi bencana Gunung Semeru seperti banjir lahar patut diwaspadai. Apalagi aktivitas vulkanis dari gunung aktif satu ini masih fluktuatif setiap waktunya.
Berdasarkan laporan dari Pos Pantau Gunung Api (PPGA) Semeru di Desa Sumberwuluh, Lumajang, Rabu (30/10), sejak pukul 00.00 hingga 16.00 erupsi terjadi sebanyak tiga kali dengan letusan tertinggi mencapai 900 meter. Intensitas erupsi tersebut membuat masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi perluasan banjir lahar.
Baca Juga: Harga Anjlok, ASN Lumajang Borong Cabai Petani
Petugas PPGA Semeru Sigit Rian Alfian mengatakan, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh delapan kilometer dari pusat erupsi.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai atau sempadan sungai di sepanjang Besuk Kobokan. Karena berpotensi terlanda perluasan aliran lahar hingga jarak 13 kilometer dari puncak," terangnya.
Sementara itu, Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang Patria Dwi Hastiadi menyampaikan, curah hujan tinggi yang juga melanda kawasan lereng Gunung Semeru patut diwaspadai masyarakat. Sebab, berpotensi terjadi banjir lahar Gunung Semeru.
"Masyarakat tetap harus waspada, karena cuaca akhir-akhir ini hujan. Selain di bawah, juga di atas (hujan, Red). Apalagi ini kalau di atas terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi dengan durasi lama, dipastikan nanti bisa berpotensi turun banjir dengan material. Ini yang harus kita antisipasi lebih," ungkapnya.
Informasi lain, aktivitas vulkanis Gunung Semeru berupa erupsi masih dilaporkan terjadi. Meski begitu, hingga kini tidak ada perubahan status aktivitas. Sehingga masih berada di level II (waspada). (has/c2/fid)
Editor : Adeapryanis