RADAR JEMBER – Gunung Semeru, yang terletak di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, sudah lama menjadi destinasi favorit para pendaki dan pelancong. Dengan puncak Mahameru yang mencapai ketinggian 3.676 mdpl, gunung ini menjadi yang tertinggi di Pulau Jawa. Secara administratif, Semeru masuk ke wilayah Malang dan Lumajang, dan merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatra dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat.
Tak hanya pemandangan megahnya yang memukau, area sekitar Gunung Semeru juga menawarkan banyak objek wisata, salah satunya Desa Ranu Pani, yang sering dijadikan titik terakhir sebelum pendakian. Desa ini, yang juga dikenal sebagai Ranu Pane, berada di ketinggian 2.100 mdpl, menjadikannya desa tertinggi di Pulau Jawa. Di desa ini terdapat danau seluas 0,75 hektare yang menambah daya tarik bagi wisatawan. Para pendaki sering singgah di Ranu Pani sebelum memulai perjalanan mereka menuju puncak Semeru, namun desa ini juga menarik untuk dikunjungi meski tanpa tujuan mendaki.
Ranu Pani sendiri masuk ke dalam daftar 50 desa wisata terbaik versi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021 yang diadakan Kemenparekraf. Prestasi ini didapat setelah melalui seleksi ketat yang mempertimbangkan aspek sosial, lingkungan, serta pengembangan ekonomi. Menanggapi prestasi tersebut, Bupati Lumajang, Thoriqul Haq, menegaskan komitmennya untuk terus membenahi infrastruktur desa dan menangani berbagai persoalan seperti sampah dan sedimentasi.
Selain danau Ranu Pani, desa ini juga menawarkan pemandangan menakjubkan dari dua danau lainnya, yaitu Ranu Regulo dan Ranu Kumbolo. Dengan suasana pedesaan yang tenang, udara sejuk, serta pepohonan hijau, Ranu Pani merupakan destinasi sempurna bagi wisatawan yang ingin menikmati ketenangan alam. Salah satu keunikan yang bisa ditemui di desa ini adalah fenomena embun beku atau “salju” yang terjadi saat musim kemarau, khususnya pada bulan Juli hingga Agustus, di mana suhu bisa turun hingga minus empat derajat.
Desa Ranu Pani dihuni oleh masyarakat asli Suku Tengger, yang dikenal dengan cerita rakyat Roro Anteng dan Joko Seger, tokoh leluhur mereka. Ada beberapa teori mengenai asal-usul nama Tengger, mulai dari kata “tengger” yang berarti berdiri tegak sebagai simbol keluhuran budi pekerti masyarakatnya, hingga kaitannya dengan pegunungan tempat mereka tinggal. Sebagian besar masyarakat Tengger menganut agama Hindu dan rutin mengadakan berbagai upacara adat seperti yadnya kasada, upacara pujan, dan beberapa ritual lainnya yang menarik perhatian wisatawan.
Untuk menuju Desa Ranu Pani, wisatawan dapat mengaksesnya melalui Lumajang menuju Senduro dan melewati Alas Burno, atau dari Malang melalui Pasar Tumpang dan Jalan Nasional III. Fasilitas di desa ini sudah cukup memadai, termasuk area parkir luas, warung, toilet bersih, penginapan, penyewaan alat berkemah, dan jasa pemandu. Selain itu, desa ini juga baru saja meresmikan sebuah amphitheater terbuka untuk menyelenggarakan pertunjukan seni dan budaya lokal, seperti jaran kepang yang menjadi salah satu atraksi favorit.
Editor : Radar Digital