RADAR JEMBER – Kabupaten Lumajang, salah satu daerah di Provinsi Jawa Timur, dikenal dengan julukan “Kota Pisang” karena merupakan penghasil berbagai jenis pisang unggulan, terutama Pisang Agung. Pisang ini banyak ditanam oleh petani di Kecamatan Senduro dan Pasrujambe, serta dijual di sepanjang jalan dari Kalah hingga Ranoyoso.
Nama Lumajang berasal dari kata “Lamajang,” yang sudah disebutkan dalam berbagai prasasti, naskah kuno, dan bukti sejarah lainnya. Berdasarkan penelusuran, wilayah ini telah berdiri sejak 15 Desember 1225. Tanggal tersebut akhirnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Lumajang pada tahun 1990.
Sejarah Lumajang erat kaitannya dengan Arya Wiraraja, seorang raja di Kerajaan Lamajang yang memimpin wilayah Besuki raya hingga Bali, mencakup Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, Pasuruan, Madura, dan Bali. Kisah Arya Wiraraja ini tercatat dalam Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca.
Pada masa penjajahan Belanda, sistem kerajaan mulai memudar, dan pada tahun 1882, Lumajang menjadi sebuah distrik. Status Lumajang sebagai kabupaten baru diresmikan pada tahun 1928, dengan Bupati pertama bernama R.A.A. Kartodiredjo yang menjabat hingga tahun 1940. Sejak saat itu, Lumajang dipimpin oleh beberapa bupati, hingga akhirnya Bupati Thoriqul Haq menjabat mulai 2018 hingga sekarang.
Kabupaten Lumajang juga memiliki budaya khas, seperti Kesenian Kencak, Tari Topeng Kaliwungu, dan Tari Glipang Lumajang. Selain itu, kabupaten ini memiliki batik dengan motif pisang yang menjadi ciri khas.
Selain dikenal dengan pisang, Lumajang memiliki banyak destinasi wisata alam yang menarik. Beberapa di antaranya adalah Pantai Bambang, Gunung Semeru, Danau Ranu Kumbolo, Air Terjun Coban Sewu, dan Situs Biting. Gunung Semeru, sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa, juga menjadi ikon pariwisata Lumajang.
Secara topografi, sebagian besar wilayah Lumajang memiliki kemiringan 0-15%, yang cocok untuk pertanian. Wilayah dengan kemiringan 15-25% baik untuk perkebunan, sementara daerah dengan kemiringan 25-40% lebih sesuai untuk tanaman konservasi. Wilayah dengan kemiringan lebih dari 40% umumnya digunakan untuk perlindungan sumber daya alam.
Kabupaten Lumajang juga kaya akan sumber daya air, dengan 31 sungai, 369 dam, 254 pompa air, serta beberapa air terjun dan danau seperti Ranu Klakah dan Ranu Pakis. Dengan potensi ini, Lumajang memiliki peluang besar untuk pengembangan industri air minum dan pariwisata air.
Dengan penduduk sekitar 1,1 juta jiwa, tata guna lahan di Kabupaten Lumajang beragam, mencakup sawah, pemukiman, perkebunan, hutan, dan tambak, yang menunjang perekonomian dan kehidupan masyarakat di daerah ini.
Editor : Radar Digital