RADAR JEMBER – Gunung Semeru, yang dikenal juga sebagai Mahameru di kalangan masyarakat Jawa, bukan sekadar gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut, tapi juga menyimpan banyak mitos yang menarik. Dalam kepercayaan lokal, gunung ini dianggap sebagai tempat tinggal para dewa dan menjadi sumber cerita yang diwariskan turun-temurun.
Nama ‘Semeru’ sendiri berasal dari bahasa Jawa, dengan makna yang dalam. ‘Se’ berarti ‘selalu’ atau ‘terus-menerus’, sementara ‘meru’ merujuk pada Gunung Meru, yang dalam mitologi Hindu dan Buddha dianggap sebagai gunung suci dan pusat alam semesta. Bagi masyarakat Jawa, Semeru adalah simbol spiritualitas dan keabadian, yang mencerminkan keagungan gunung ini sebagai tempat yang suci.
Gunung Semeru dan Mahameru sebenarnya merujuk pada dua hal yang sama namun berbeda secara konteks. Gunung Semeru adalah nama gunung itu sendiri yang membentang di Jawa Timur, sedangkan Mahameru merujuk pada puncak tertingginya. Secara administratif, gunung ini melintasi Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, yang menambah kekhasan Semeru.
Tak hanya sebagai objek alam, Gunung Semeru juga dikelilingi oleh berbagai mitos yang kaya makna. Ada tujuh kisah yang mengelilinginya, kisah-kisah ini mencerminkan kebijaksanaan dan kepercayaan lokal, memberikan sentuhan mistis pada kehadiran gunung yang dianggap suci oleh masyarakat.
Di kaki Gunung Semeru, terdapat Danau Ranu Kumbolo yang menjadi salah satu tujuan favorit para pendaki. Selain keindahan alamnya, danau ini juga dikenal sebagai tempat yang penuh dengan nuansa mistis. Masyarakat sekitar percaya bahwa seorang dewi berkebaya kuning tinggal di dalam danau ini, sehingga ada larangan untuk mendirikan tenda terlalu dekat dengan tepi danau, juga larangan untuk mandi atau mencuci di sana sebagai bentuk penghormatan terhadap kepercayaan lokal.
Legenda lain yang berkembang di sekitar Ranu Kumbolo adalah tentang ikan mas, yang dipercaya merupakan reinkarnasi dewi penjaga danau. Larangan menangkap ikan di danau ini menjadi bagian dari keyakinan yang tumbuh di masyarakat, menjadikan Ranu Kumbolo bukan sekadar destinasi alam tetapi juga tempat yang dihormati karena nilai-nilai spiritualnya.
Salah satu mitos yang paling populer di kalangan pendaki adalah mengenai Tanjakan Cinta. Mitos ini menyatakan bahwa jika seseorang berhasil melewati tanjakan ini tanpa menoleh ke belakang dan sambil memikirkan pujaan hatinya, kisah cinta mereka akan berakhir bahagia. Namun, jika pendaki menoleh ke belakang, hubungan cintanya dipercaya akan berakhir dengan kesedihan.
Gunung Semeru juga dianggap sebagai paku Pulau Jawa, berdasarkan cerita dalam kitab kuno Tantu Pagelaran. Gunung ini dipercaya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam di Pulau Jawa, sehingga tidak hanya dipandang sebagai gunung, tetapi juga sebagai simbol kebijaksanaan dalam mitologi.
Sosok Mbah Dipo, seorang kuncen atau penjaga spiritual Gunung Semeru, juga sangat dihormati. Mbah Dipo meninggalkan banyak pesan penting untuk keselamatan masyarakat sekitar, terutama saat gunung meletus. Pesan-pesan ini terus diwariskan kepada generasi berikutnya, bahkan setelah Mbah Dipo wafat pada tahun 2007.
Puncak Mahameru sendiri dianggap sebagai tempat suci, dipercaya sebagai tempat tinggal para dewa. Masyarakat Hindu sering melakukan upacara sesaji setiap beberapa tahun sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Brahma dan Dewa Wisnu, yang dipercaya membawa Gunung Semeru dari India ke Tanah Jawa untuk menyeimbangkan bumi.
Dengan keindahan alamnya dan mitos-mitos yang mengelilinginya, Gunung Semeru tidak hanya menjadi tempat wisata alam yang menantang, tetapi juga menawarkan pengalaman spiritual yang mendalam bagi siapa saja yang datang menjelajahinya. Keberadaan Gunung Semeru sebagai bagian dari mitologi dan kebudayaan Jawa memberikan dimensi unik pada gunung ini, menjadikannya lebih dari sekadar pemandangan alam biasa.
Editor : Radar Digital