RADAR JEMBER – Gunung Lemongan, yang berada di Desa Papringan, Kecamatan Klakah, Kabupaten Lumajang, merupakan gunung berapi yang sudah lama tidak aktif, dengan letusan terakhir pada tahun 1898. Meskipun begitu, gunung ini memiliki sejarah dan legenda yang erat kaitannya dengan sosok Begawan Citro Sridono Sasmito, atau yang dikenal sebagai Mbah Citro.
Jaka, sang juru kunci Gunung Lemongan, mengisahkan bahwa Mbah Citro adalah orang yang pertama kali membuka jalur di hutan lebat Desa Papringan hingga menemukan Gunung Lemongan. Sebelumnya, Mbah Citro turut berjuang melawan penjajah pada agresi militer Belanda II di Blitar sekitar tahun 1948.
Perjalanan Mbah Citro ke Lumajang berawal dari saran leluhurnya yang menyuruhnya bertapa di Gunung Lawu. Dalam tirakatnya, Mbah Citro mendapatkan petunjuk tentang sebuah padepokan supranatural yang berada di sebelah timur Pulau Jawa. Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju Gunung Semeru, di mana selama 40 hari ia melihat cahaya biru keemasan dari arah utara, mengarah ke Gunung Lemongan.
Setelah melalui perjalanan panjang, Mbah Citro berhasil menyusuri hutan Papringan yang saat itu masih sangat liar dan ditakuti banyak orang. Motivasi utama Mbah Citro dalam perjalanannya adalah mencari petunjuk untuk mencapai perdamaian. Pada akhirnya, ia mendirikan sebuah sanggar pamujan di dataran tinggi yang dikenal sebagai Gunung Fuji, sebuah area yang terbentuk dari letusan Gunung Lemongan. Di tempat inilah, Mbah Citro mendirikan padepokan dengan semangat membawa perdamaian dan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Setelah menetap di lereng Gunung Lemongan, Mbah Citro memiliki dua anak, dan ia meninggal pada tahun 2016. Makamnya terletak di lereng gunung tersebut, berdampingan dengan makam istrinya. Mbah Citro sendiri berasal dari Magetan, Jawa Timur.
Selain kisah Mbah Citro, Jaka juga menceritakan tentang legenda yang masih hidup di sekitar Gunung Lemongan. Gunung ini diyakini dihuni oleh makhluk ghaib bernama Macan Danu, sosok mistis yang konon dapat berubah wujud menjadi manusia, kadang berupa pria tampan atau wanita cantik.
Ada sejumlah pantangan yang harus dipatuhi oleh para pendaki, salah satunya adalah tidak boleh meremehkan gunung ini, meskipun tingginya hanya sekitar 1.651 meter di atas permukaan laut. Menurut Jaka, sikap meremehkan bisa berujung pada pengalaman buruk, seperti tersesat atau bahkan hilang di gunung.
Jalur pendakian Gunung Lemongan sendiri cukup menantang, dengan kontur terjal dan bebatuan sisa letusan yang masih berserakan. Perjalanan menuju puncak memakan waktu sekitar empat jam, dan dari puncaknya, kawah vulkanis yang luas menjadi pemandangan yang memukau. Namun, Jaka berpesan agar pendaki selalu menjaga pikiran tetap jernih, karena saat pikiran kosong atau kelelahan, mereka rentan terhadap gangguan makhluk gaib yang tinggal di gunung ini.
Editor : Radar Digital