RANUPAKIS, Radar Semeru - Debit air Ranu Pakis di Desa Ranu Pakis, Kecamatan Klakah, Lumajang, belakangan terus mengalami penyusutan. Imbas musim kemarau yang melanda membuat danau sedalam 26 meter itu kembali mengalami penyusutan hingga berpotensi mengancam ketersediaan air bagi masyarakat setempat.
Salah satu warga setempat, Bungkas, mengatakan, penyusutan debit air Ranu Pakis sudah terlihat sejak pertengahan April 2024 lalu. Musim kemarau membuat penyusutan kembali terjadi. "Penyusutan itu perkiraannya 5 sampai 6 meter dari pinggiran danau. Terlihat saat beberapa gundukan tanah di dalam air justru ada di atas," terangnya, Rabu (14/8).
Penyusutan berpotensi terus terjadi jika hujan tak kunjung turun dalam waktu yang lama. Tentunya kondisi itu ikut mengancam sejumlah keramba yang tumbuh subur di tepi danau. "Kalau terus kering kan repot juga yang punya keramba, bisa kekeringan nanti. Keindahan danau juga bisa berkurang," tambahnya.
Selain menjadi ladang penghasilan bagi nelayan keramba, danau yang terbentang seluas 112 hektare itu juga menjadi salah satu sumber pasokan air bagi warga setempat. "Air danau ini kan juga dipakai buat menyirami banyak lahan pertanian. Kalau semakin kering, bisa-bisa berdampak pada hasil pertanian juga," kata Bungkas.
Sementara itu, warga lain yang tinggal di perbatasan antara Desa Ranubedali dengan Ranupakis, Asyari, mengatakan, penyusutan air di Ranu Pakis terbilang parah ketimbang danau lain seperti Ranu Klalah.
"Kalau dalam dua bulan ini di Ranu Pakis masih bisa dipakai untuk menyirami lahan. Kalau lebih dari itu sudah tidak bisa karena sudah semakin menyusut," ungkapnya saat dikonfirmasi, Rabu kemarin.
Penyusutan Ranu Pakis sering diberitakan terjadi saat memasuki musim kemarau panjang. Tak hanya Ranu Pakis, danau lain seperti Ranu Klakah hingga Ranu Bedali juga dikabarkan mengalami fenomena serupa. (has/c2/fid)
Editor : Radar Digital