JARIT, Radar Semeru - Selain Bagong warga Desa Jugosari, Kecamatan Candipuro, yang dulu tidak sempat terkaver bantuan, kini giliran Soerary alias Sukari, warga Desa Jarit, Kecamatan Candipuro, juga mengalami nasib serupa.
Dia bersama ibunya mengandalkan hasil penjualan rongsokan untuk bertahan hidup.
Setiap hari Sukari selalu mengajak ibunya berkeliling sepanjang jalan di Kecamatan Pasirian dan Kecamatan Candipuro untuk mencari rongsokan.
Sang ibu dibonceng sepeda motor tua dengan membawa gerobak. Kondisi itu berlangsung selama belasan tahun.
“Ke mana-mana saya bawa, setiap kegiatan saya, saya bawa. Kadang-kadang tidur di warung-warung kalau pas cari rongsokan, ya, saya bawa. Orang tua saya ini tidak bisa melihat karena sakit syaraf. Ya, saya takut kalau ditinggal di rumah. Kasihan,” kata Sukari.
Hasil penjualan rongsokan yang tak seberapa kadang kurang untuk membeli makanan. Sampai-sampai keduanya harus menahan lapar hingga berhari-hari.
Selama ini, Sukari memang nyaris tak pernah tersentuh bantuan pemerintah.
“Ya sudah, namanya dikasih. Kalau tidak dikasih, ya, tidak apa-apa,” tambahnya.
Sebelumnya, Sukari tinggal di Desa/Kecamatan Pasirian. Namun, selama enam tahun terakhir pindah ke Dusun Kebonsari RT/RW 1/1 Desa Jarit, Kecamatan Candipuro.
Warga cukup mengenal kehidupan Sukari.
Pria yang memilih lajang untuk hidup menemani Supiah, ibunya.
Kades Jarit, Kecamatan Candipuro, Novita Supriswanti mengatakan, Sukari memang belum masuk data terpadu kesejahteraan sosial (DTKS).
Kehidupannya memang jauh dari kata layak. Bahkan, rumahnya yang ditinggali sekarang juga tidak memiliki kamar mandi.
“Kemungkinan kita juga yang kurang kroscek. Kami pikir tinggal di desa sebelah yang berbatasan dengan desa kami. Tahunya sudah pindah menjadi warga kami. Alhamdulillah, dokumen kependudukannya ada, ini akan mempermudah kami untuk bisa memberikan sentuhan,” pungkasnya. (son/c2/fid)
Editor : Radar Digital