GONDORUSO, Radar Semeru - Tak hanya menyebabkan banyak kerusakan infrastruktur, bencana banjir lahar dan banjir luapan yang menerjang Lumajang Kamis (18/4) lalu juga merusak ratusan hektare lahan pertanian.
Akibatnya gagal panen total menjadi imbas yang juga harus dirasakan.
Informasi yang dirilis oleh dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP) Lumajang, ada sebanyak 75 hektar lahan tanaman pangan yang mengalami gagal panen.
Sementara itu sebanyak 31 hektare tanaman hortikultura juga ikut mengalami kerusakan akibat bencana banjir tersebut.
Sementara itu, berdasarkan laporan penilaian dan kerugian pasca bencana alam hidrometeorologi di Lumajang 2024 DKPP Lumajang juga mencatat sedikitnya ada 28 hektar lahan pertanian padi di Desa Gondoruso terdampak banjir lahar.
Kerugian yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.
Warga Desa Gondoruso, Sucik menjadi salah satu petani yang lahannya ikut terdampak kerusakan akibat banjir lahar.
Terpantau langsung dari lokasi lahan satu petak milik lansia 52 tahun itu banyak tertimpun material vulkanis.
"Ya terpaksa rugi karena gagal panen, padahal padinya sudah menguning tapi malah terkena banjir lahar," ungkapnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Semeru, banyak lahan pertanian lain di desa setempat ikut terdampak banjir lahar.
Lahan yang sebelumnya penuh akan pertanian kini telah berubah menjadi jalur aliran lahar.
"Jika dilihat sekarang sudah seperti sungai, kalau sebelumnya di sini penuh lahan pertanian," tambah Sucik sembari menunjuk areal aliran lahar di sebelah lahannya.
Sementara itu, Kabid Sarana Prasarana Pertanian DKPP Lumajang, Eko Sugeng Prasetyo menjelaskan, upaya pendataan terhadap lahan terdampak menjadi langkah yang diambil untuk mengetahui jenis kerusakan lahan.
"Lahan yang terdampak kerusakan ini akan diajukan kepada kementerian pertanian agar bisa mendapat bantuan berupa benih atau sarana lain," terangnya.
Informasi lain, perbaikan infrastruktur pertanian seperti saluran irigasi lahan menjadi fokus utama yang dilakukan Pemkab Lumajang guna mengatasi kesulitan air pada musim tanam berikutnya.
Mengingat kerusakan akibat bencana cukup fatal bagi sektor pertanian jika tidak segera ditangani. (has/bud)
Editor : Radar Digital