Banyak hal yang berpotensi meningkatkan perekonomian di Bondowoso. Salah satunya kerajinan kuningan. Bentuknya yang indah dan warnanya yang mirip emas banyak memikat konsumen. Seperti yang ada di Desa Cindogo, Kecamatan Tapen, Bondowoso. Hasil kerajinan kuningan di desa ini bahkan sudah diekspor ke beberapa negara.
MELINTAS di jalan raya menuju Bondowoso–Situbondo, ada lokasi yang menarik perhatian. Sebuah desa yang bagian depan rumahnya banyak etalase kaca. Bukan perajin etalase di sana, tapi etalase itu digunakan untuk memamerkan produk kerajinan kuningan. Bentuknya bermacam-macam, warnanya pun beragam.
Salah satu pemilik kerajinan kuningan di Desa Cindogo, Ayu, mengatakan, pihaknya saat ini telah mengirim hasil kerajinannya ke beberapa daerah di luar Bondowoso. Bahkan, dia telah mengekspor hasil kerajinannya ke luar negeri. “Sudah ekspor ke beberapa negara di Asia Tenggara. Seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura,” ungkapnya.
Bentuk kerajinan kuningan yang diekspor tersebut bermacam-macam. Begitu pula fungsinya. Hal itu bisa berupa sebatas karya seni belaka atau juga benda aplikatif. Mulai dari hiasan, peralatan dapur, piala, hingga benda-benda lainnya. “Ada cetakan kue, guci besar atau kecil, piala, hiasan replika binatang, dan barang-barang lainnya,” ungkapnya.
Ayu juga menambahkan, untuk merambah target pemasaran yang lebih luas, pihaknya kini telah menjajakan produknya melalui pasar daring. Bahkan, Ayu Triyogi menjelaskan, terdapat akun media sosial yang khusus untuk penjualan kerajinan kuningan tersebut. “Alhamdulillah sudah memakai berbagai e-commerce untuk penjualannya,” ungkapnya.
Ayu pun menambahkan, saat ini proses pembuatan kerajinan tersebut dilakukan secara manual. Sebab, menurutnya, beberapa benda perlu perlakuan yang detail dalam pembuatannya. Namun, proses pembuatan itu dibantu mesin sederhana. “Sementara masih manual. Tapi, masih bisa maksimal,” tambahnya.
Namun, Ayu mengakui bahwa ada persaingan ketat di industri kerajinan kuningan. Dia menjelaskan, produknya belum bisa bersaing dengan produk dari perusahaan asal India. Menurutnya, produk miliknya belum dibuat dengan teknologi modern. “Mungkin karena proses pembuatannya menggunakan alat manual,” ungkapnya.
Selain itu, penyebabnya adalah komoditas logam di Indonesia yang tidak stabil. Hal ini berbeda dengan India yang mungkin lebih baik suplainya. Di Indonesia, harga logam cenderung melonjak. “Suplai logamnya yang tidak menentu,” ungkapnya.
Sementara itu, Lestari, warga Jember, menyebut, produk kuningan asal Bondowoso punya ciri khas dibanding daerah lainnya. Yaitu, memiliki corak warna yang berani. “Kalau kuningan ada warna merah dan hijaunya itu dari Cindogo. Dari dulu itu terkenal produk kuningannya,” terangnya. Bahkan, sejak dulu kuningan dari Cindogo kerap jadi oleh-oleh pejabat provinsi hingga toko nasional. (c2/dwi)
Editor : Radar Digital