Kasus anjal dan gepeng tiap harinya makin banyak. Orangnya pun bukan itu-itu saja, tapi ada yang baru. Bahkan, mereka berani menggunakan pakaian bersih dan rapi sambil membawa kaleng dan menadahkan tangan.
SAAT ini gelandang, pengemis (gepeng), dan anak jalanan (anjal) kian banyak di kawasan kota. Mereka menempati lokasi strategis untuk mendapat cuan. Seperti di kawasan simpang empat, tempat pemberhentian arus kendaraan sementara.
Biasanya sejak pagi mereka mulai beraksi. Dengan menggunakan pakaian ala kadarnya dan terkesan kotor. Memakai masker, topi, ada pula yang menggunakan hijab. Sambil membawa kaleng untuk mengumpulkan uang dari hasil meminta-minta. Biasanya paling banyak mereka berada di Simpang Empat Toga, Simpang Lima, dan Simpang Tiga KTL.
Anehnya, mereka ada yang menggunakan pakaian bagus. Pakaian bersih lengkap dengan baju tertutup. Orang biasa menyebutnya pakaian necis. Kondisi itu terkadang membuat orang enggan memberinya. Namun, mereka ini sudah sering kali ditertibkan. Diamankan oleh pihak keamanan, tapi membandel. Masih saja turun ke jalan. Dengan alasan mencari nafkah.
“Saya aslinya Lumajang, cuma tinggal di terminal. Numpang tidur di sana. Paginya langsung ngemis lagi,” ucap Eno, salah satu gepeng yang berhasil diwawancarai.
Sementara, pemerintah Lumajang terus bekerja keras untuk mengurangi gepeng dan anjal ini. Sebab, pelakunya bukan hanya orang dewasa dan lansia, bahkan remaja hingga anak-anak pun ikut andil. Padahal mereka masih perlu mengenyam pendidikan.
Bahkan, sebagian warga juga merasa resah dan diduga mengganggu kenyamanan, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Pemerintah daerah sejatinya sudah melakukan penanganan. Terutama terhadap mereka yang berhasil diamankan Satpol PP Lumajang. Kemudian, diserahkan ke Dinsos Lumajang untuk didata dan diikutkan pelatihan. Agar memiliki keterampilan dan bisa membuka lapangan usaha sendiri.
“Jadi, mereka benar-benar dilatih soft skill-nya. Agar tidak jadi gepeng lagi. Jadi, pulang sudah bisa membuka usaha,” ucap Darno, Kepala Bidang Perlindungan Anak dan Rehabilitasi Sosial Dinsos Lumajang. (dea/c2/fid)
Editor : Radar Digital