JOGOYUDAN, Radar Semeru - Bisnis properti di Lumajang masih terbilang lesu. Terutama bagi pengembang perumahan komersial. Hal itu disebabkan daya beli warga yang terbilang rendah. Mereka lebih memilih rumah subsidi dengan kemudahan yang diberikan pemerintah.
Salah satu pengembang perumahan di Lumajang mengaku jika dalam satu bulan hanya bisa menjual satu unit rumah komersial. Dengan rata-rata harga Rp 300 juta, bahkan bisa lebih. Penjualan yang terbilang minim ini diakibatkan penduduknya yang berpenghasilan sedang. Berbeda dengan kota-kota besar yang memilki penduduk heterogen dengan penghasilan tinggi. “Untuk komersial satu bulan bisa satu unit. Memang Lumajang penduduknya tidak seberagam kota-kota besar,” tutur CEO PT East Kedaton Jayaland Alfian Mahardika.
Menyiasati itu, sejumlah pengembang mulai mendirikan rumah subsidi. Penjualannya di Lumajang lebih pesat. Dalam satu bulan 40 unit bisa sold out. Hal itu karena adanya subsidi dari pemerintah dan beberapa fasilitas yang diberikan.
Sementara itu, menurut Ketua REI Komisariat Bondowoso, Jember, dan Lumajang Bambang, Lumajang tergolong daya beli rumah komersialnya rendah. “Ini karena pemasukannya rendah, sehingga daya beli juga rendah. Kalau income besar, daya belinya juga tinggi,” pungkasnya. (dea/c2/dwi)
Editor : Radar Digital