JEMBER, RADARJEMBER.ID - Setumpuk jajanan jadul khas bocah cilik diletakkan dalam baki-baki berukuran sedang. Langkah kaki Ari Cahyono menyusuri jalanan Dusun Tegal Banteng, Desa Kesilir, Kecamatan Wuluhan, mengantarkannya pada toko-toko tak jauh dari rumahnya di RT 8 RW 5. Namun, sudah setengah tahun ini rutinitas itu tak dilakukan lagi. Kesibukannya berganti mendistribusikan mi lidi ke pasar-pasar modern.
Ya, mi lidi merupakan produk buatannya sendiri yang sekarang sudah merambah ke sejumlah pasar modern besar. Bukan hanya di area Jember, tapi juga sudah sampai ke luar kota. Pria 35 tahun itu sudah berjibaku merintis usaha mi lidi 86 sejak akhir 2021 lalu. Seperti UMKM pada umumnya, pada saat itu produksi dan penjualan yang dilakoni Ari masih secara tradisional. Mi lidi produksinya belum memiliki merek. Dikemas dalam plastik-plastik kecil dan dititipkan ke toko-toko grosir terdekat.
Seiring berjalannya waktu, Ari tak puas dengan cara tersebut. Keinginannya untuk melebarkan sayap sempat dihantui keraguan karena tidak percaya diri. Bermodal nekat dan belajar dari Youtube, akhirnya dia mulai mentransformasi sistem produksi hingga pemasaran.
Disadarinya, cara pengemasan menjadi teknik awal yang akan membuat mi lidi buatannya tampak mentereng. Diberinya brand atau nama produk dengan packaging yang semenarik mungkin. Produk yang awalnya berjajar di antara jajanan warung kini sudah menjadi premium bersanding dengan produk pabrikan lainnya di pasar modern.
“Akhirnya memberanikan diri,” itulah kata-kata yang membuat rasa tidak percaya dirinya luntur saat itu. Setahun setelah memutuskan membuka usaha mi lidi atau sekitar akhir 2022, mi lidi 86 Ari kemudian bisa ditemukan di rak-rak supermarket. Di antaranya di Larisso, seluruh cabang Dira, Roxy, Transmart, Rajawali Swalayan, Super Galaxy, GM Jember, hingga GM Lumajang.
Sebelumnya, Ari mempersiapkan dengan matang agar produknya bisa menembus ke sana. Termasuk mengurus sertifikat izin pangan industri rumah tangga (PIRT). Usahanya terlihat terus mengalami kemajuan. Kini, produknya juga sudah mengantongi sertifikat halal Indonesia. “Setelah tiga bulan halal Indonesia keluar (sejak mengajukan, Red), lalu saya merambah ke pasar modern lainnya,” tuturnya.
Pemasaran juga dilakukan secara daring. Sebanyak 13 varian rasa mi lidi 86 miliknya berhasil mendatangkan konsumen-konsumen baru. Setiap bulan produksi rata-ratanya bisa mencapai delapan ribu buah. Pada skala UMKM, tentu jumlah tersebut cukup banyak. Hampir setiap hari Ari berproduksi dibantu anak, istri, dan dua karyawan.
Lengkapnya perizinan produk menjadi syarat utama yang harus dimiliki suatu produk UMKM jika ingin diterima di pasar modern. Setidaknya, itulah yang sudah diusahakan Ari selain membuat produk dan kemasannya menarik. Setelah itu dilakukan, perasaan minder mulai dihapus dan yakin bisa bersaing. “Kalau sudah masuk pasar modern, saya upayakan kualitas produknya premium. Jadi, saat produksi ada SOP khusus. Misalnya pakai penutup kepala, masker, dan sarung tangan,” ulas Ari.
Selain itu, dia juga mengikuti segala aturan khusus di setiap toko swalayan tempat produknya dijual. Salah satunya untuk UMKM yang harus membayar biaya atau pajak awal masuk. Saat ini, Ari sedang menunggu kabar konfirmasi dari Alfamart setelah tiga minggu lalu memasukkan pengajuan penjualan produk di sana. Kemudian, memutar otak agar mi lidi 86 miliknya juga bisa merambah ke Hypermart. “Kesulitannya di barcode,” keluhnya.
Ari mengungkapkan, tak semua pasar modern menyediakan barcode. Sehingga, sekalipun produk UMKM harus memiliki barcode yang sudah dilegalisasikan melalui aplikasi CGI. Nah, sebagian Hypermart tidak menyediakan barcode itu. “Saya berharap Dinas Koperasi bisa menjembatani ke sana, agar UMKM bisa memasarkan (ke pasar modern, Red) lebih luas sampai luar kota,” pungkasnya. (c2/nur)
Editor : Safitri